Blood is Thicker than Water(?)

Standard

Blood is Thicker than Water.

Kalimat ini sering sekali muncul setelah isu perseteruan Pak Mario Teguh (MT) dan (yang katanya) anaknya merebak. Terutama setelah banyak sekali netizen yang mengomentari, bahkan menghujat Pak MT berdasarkan pernyataan yang dikeluarkan adik Pak MT.

Sebelumnya, tulisan ini tidak bermaksud membahas masalah Pak MT dan keluarganya. Saya tidak kenal, tidak punya data dan tidak berkesempatan untuk tabayyun atau cross check dengan mereka, jadi saya tidak berani berpendapat. Saya hanya memanfaatkan momennya saja untuk menjadikannya sebagai bahan belajar.

Kalau dari yang saya baca, sebagian besar yang menghujat itu sedemikian percayanya pada si adik dengan dalil, “dia adiknya kok, kalau sampai dia tega membuka aib si kakak, pasti hal itu adalah suatu kebenaran, pasti si kakak sudah keterlaluan, blablabla..”

Mungkin, yang bersikap demikian adalah mereka yang seumur hidupnya memiliki hubungan baik, bahkan mungkin sangat baik, dengan kakak adiknya. Itu patut disyukuri. Namun, pernahkah mereka berpikir, bahwa di dunia ini selalu ada variasi, selalu ada penyimpangan dari sesuatu yang dianggap IDEAL?

Berapa banyak dari kita yang pernah melihat kakak adik saling bunuh karena harta warisan? Saling jegal untuk sebuah posisi jabatan dalam perusahaan keluarga? Terlibat persaingan bisnis secara kejam?
Itu contoh-contoh yang relatif berat.

Berapa banyak pula di antara kita yang pernah melihat (atau bahkan mengalami), kakak adik yang sanggup berkata kasar ketika bertengkar, menggosip dan menjelekkan saudaranya di depan keluarga besar demi supaya terlihat lebih baik, ringan menghina pekerjaan/penghidupan saudaranya?
Kalau kita terus mencari contoh-contoh lainnya, tulisan ini pastilah akan menjadi berlembar-lembar halaman.

Contoh-contoh di atas mematahkan pendapat ‘Blood is Thicker than Water’ tentunya. Tidak semua darah lebih kental dari air.

Saya tidak sedang mereduksi nilai sebuah persaudaraan sedarah. Dan sebaliknya, saya juga tidak akan mereduksi nilai sebuah hubungan persaudaraan yang tidak sedarah. Saya lebih suka, bersikap obyektif, benar-benar melihat kualitas obyek, si SAUDARA.

Dan pendapat saya sejalan dengan definisi “saudara” itu sendiri.

Kamus Besar Bahasa Indonesia menjelaskan definisi saudara sebagai berikut:

screenshot_2016-09-19-14-25-5201

Definisi di atas cukup menjelaskan bahwa konsep saudara tidak dibatasi oleh pertalian darah semata. Agama yang saya anut juga mengajarkan hal yang sama. Bahwa kami semua yang seiman adalah saudara. Betul, ada hal-hal yang dibatasi oleh keharusan adanya pertalian darah. Tapi sangat banyak hal lain yang tidak memerlukan itu.

Definisi nomor 3 cukup pula untuk membuat kita paham bahwa:

Ada saudara sedarah yang memang berperan, bersikap, berperilaku selayaknya saudara. Ada yang tidak.

Dan, ada orang-orang yang mungkin sudah bersahabat sejak lama, memegang prinsip/nilai hidup yang sama, keyakinan agama yang sama, pengalaman hidup yang sama, hobi/interes yang sama, lingkungan yang sama, dan beragam kesamaan lainnya, yang juga bisa berperan, bersikap, berperilaku, terpercaya, dapat diandalkan selayaknya saudara.

Tidak yakin?
Semoga yang tidak yakin dengan pendapat saya, segera dipertemukan dengan saudara tidak sedarahnya🙂🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s