Akhir Yang Baik

Standard

Setiap 30 Mei, selepas Subuh biasanya almarhum ayah saya selalu jadi orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun lewat SMS. Saya masih ingat ucapan beliau beberapa tahun terakhir, selalu mendoakan saya jadi ibu yang baik.

Hari ini, SMS itu tergantikan oleh mimpi. Saya orang yang sangat jarang bermimpi saat tidur, dan mimpi tadi membuat saya terbangun dalam tangis, dada yang sesak dan gemetar.

Dalam mimpi itu, saya seperti kembali ke Jumat pagi, 30 Oktober 2015, berada di barisan pengantar jenazah ayah saya menuju pemakaman. Bedanya, saya melihat beliau sendiri yang memimpin rombongan itu. Dari arah belakang saya berlari mendekat, berjalan berdampingan dengan beliau dan menyampaikan bahwa saya sangat kehilangan, masih terkadang tidak percaya beliau sudah pergi, dan minta maaf karena saya punya banyaaaaakkk kesalahan pada beliau.

Dalam mimpi itu beliau menjawab, kepergiannya adalah cara Allah sekali lagi mengajarkan pada saya siap tidak siap, kematian adalah satu hal yang pasti. Dan sebagai Muslim, kematian itu bukan hal yang mengerikan, tapi dinantikan, karena itu lah gerbang kita untuk bertemu Allah.

Ucapan ayah saya itu bukan cuma ‘teori’…

22 Oktober 2015, tujuh hari sebelum beliau meninggal. Ayah, ibu, saya, kakak, para ipar dan cucu berkumpul di RS, di antara naik turunnya kesadaran beliau, diajaknya kami membaca Al Fatihah dan tiga surat terakhir berulang-ulang lalu ditutup dengan berdzikir. Setelahnya, beliau bicara.

“Kukung ini paling cuma 7 hari”

“Apanya Kung, yang 7 hari?”

“Ya Kukung, abis itu Kukung mau pulang, capek Kukung. Kalau harus meninggal ngga apa-apa”

Itu bukan percakapan mudah, tapi ajaran agama saya mengajarkan harus siap menerima apa pun keputusan Allah.

“Ikhlas Kung?”

“Ikhlas..”

Beliau diam sebentar…lalu…

“Tapi Ibumu yo’opo?”

“Ngga usah kuatir, ada aku, ada mas Riza, ada Allah yg akan jaga”

“Ooo yowes. Kalau Kukung ngga ada, warisan harus dibagi sesuai ajaran Islam.”

Lalu beliau bersedekap dan tertidur..

Hal yang beliau khawatirkan hanya Ibu saya dan berkaitan dengan pesan tentang warisan tadi, saya yakin bahwa tidak ada maksud selain ingin memastikan hubungan dalam keluarga tidak rusak hanya karena harta warisan.

Dalam mimpi, beliau juga berkata, “Kukung sudah maafkan kesalahan-kesalahanmu. Kukung juga banyak salah, bisa jadi salah²mu juga karena kesalahan Kukung. Manusia ngga hidup di masa lalu, manusia hidup hari ini dan untuk masa depan. Masa depanmu ya anakmu, jangan sampai dia lepas dari ajaran² Islam.”

“Kukung juga berterima kasih, kamu antarkan Kukung dengan cara yang baik”

Ya Allah Ya Rabb..

Saya masih ingat detil pengalaman menemani ayah saya di RS, kami sekeluarga seperti sedang menuruni anak tangga. 9 hari dirawat, setiap harinya penurunannya jelas terlihat. Ayah saya tidak pernah sakit parah sebelumnya. Beliau sangat rajin check up, satu-satunya keluhan adalah sakit di pinggang, dan sedang dalam penanganan dokter. Lalu tiba-tiba drop, secara fisik dan mental. Itu membuat saya berpikir ada apa?

Dokter menyampaikan tiba-tiba ada penyakit ini itu. Mengajak kami sekeluarga berpikir realistis, bahwa setiap tindakan dan pengobatan adalah bagian dari usaha medis sebagai manusia, tapi senantiasa mengingatkan agar kami siap dengan kemungkinan terburuk.

Sejak itu, saya amati tanda-tandanya, saya browsing, saya diskusi dengan sahabat yang sudah lebih dulu berpengalaman mengantar kepergian orangtuanya, saya diskusi dengan ustadz, saya diskusi dengan keluarga. Tanda-tanda menuju akhir memang semakin terlihat. Dan alhamdulillah, kami siap. Bahkan ibu saya, yang saya takutkan akan paling sulit menerima ternyata tidak. Allah tenangkan hati kami semua. Kami ingin melakukan yang terbaik.

Salah satu saran ustadz dan sahabat dekat saya adalah mengajak ayah istighfar mengingatkan beliau pada dosa yang mungkin telah diperbuat. Mumpung beliau masih sadar.

Berat hati saya, antara tega dan tidak, melihat beliau yang kadang lepas kesadarannya (pikun), saya harus bicara…

“Istighfar yuk Kung, kalau² ada perbuatan kita yang menyakiti orang lain tanpa kita sadari. Kalau ada harta haram yang tidak sengaja kita makan.”
…hal-hal serupa itu.

Saya melihat beliau menangis, bibirnya bergetar meski tak dapat berbicara. Karena ritme biologis beliau yg berubah, sepanjang siang tertidur dan malam terjaga, setiap malam…dalam hening sebisa-bisanya saya temani beristighfar.

Hingga akhirnya hari itu datang.
Malam Jumat, 29 Oktober 2015.

Sejak ba’da Ashar beliau koma, saya dan ipar saya yg menunggu. Kami sudah dipanggil masuk ICU, dipersilakan untuk menemani beliau. Ajaibnya, keluarga besar kami bisa berkumpul hari itu, yg dari luar kota tiba di Kamis siang dan sore.. Setelah beberapa hari sebelumnya ayah saya sempat minta maaf kepada keluarga, tetangga, teman² beliau yg datang menjenguk, senja itu keluarga yg lain disempatkan untuk bertemu dan say goodbye pada ayah saya.

Saya sendirian menemani ayah saya menjelang sakaratul maut. Ibu dan keluarga besar menunggu di luar karena hanya satu orang yang diijinkan berada di dalam.

Pukul 22.00, dengan iringan syahadat yang berulang kali saya dengungkan di telinganya, beliau berpulang.. Innalillahi wa inna ilaihi rojiuun..

Setelah itu, ibu dan keluarga saya pulang.

Saya temani beliau ke ruang jenazah, saya tanda tangani berkas² kematiannya, saya tunggui hingga batas waktu diperkenankan dibawa ke rumah. Saya temani berada dalam ambulans. Hanya kami saja, berdua.

Hingga saat beliau dimandikan, dikafani, didoakan, tidak ada air mata saya yang menetes, tapi tidak terukur bagaimana batin saya bergejolak. Saya ‘menyerah’ saat beliau mulai diangkat masuk ke liang lahat. Ya Allah.. ini lah akhir dari hidup.

Saya diijinkan Allah belajar tentang akhir yang baik. 9 hari yang memperkuat keyakinan saya bahwa sebaik-baiknya hidup adalah yg dijalani dengan cara yang bermanfaat dan diakhiri dengan cara yang baik.

Katamu dalam mimpiku tadi, “Nanti kita semua akan berkumpul lagi. Insya Allah”

Iya Kung, umurku hari ini berkurang satu lagi. Semakin dekat dengan akhir. Semoga nanti akhirku seindah akhirmu ya..

Allahummaghfirlahu warhamhu wa ‘aa fihi wa’fu ‘anhu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s