LGBT Di Mata Non LGBT

Standard

Sungguh, isu ini sedang begitu kuat menarik perhatian saya, sejak kembali ramai diperbincangkan di media, baik media mainstream maupun media sosial. Sungguh saya ingin tahu, apa sih yang sebenarnya sedang terjadi di lingkungan kita berkaitan dengan kelompok ini? Siapa sebenarnya yang merasa cemas? Perlukah merasa cemas? Dan yang terpenting, apakah kecemasan ini akan membuat kehidupan sosial kita menjadi disharmonis.

Siapa sebenarnya yang merasa cemas?

Saya mengamati, di sekitar saya, pandangan terhadap LGBT terpecah ke dalam beberapa kelompok.

Pertama. Kelompok anti LGBT garis keras. Yang saya maksud dengan garis keras adalah mereka yang menolak pahamnya, keberadaannya dan tidak mau bersinggungan langsung dengan kelompok ini. Mereka tidak punya teman dari kelompok LGBT.

Kedua. Kelompok anti LGBT moderat. Mereka ini secara prinsip menolak paham LGBT, ada yang karena alasan agama, ada yang lain. Namun, bersedia hidup berdampingan dengan kaum LGBT. Mereka bisa berteman baik, bertetangga, merekrut sebagai karyawan, tidak mengucilkan, tidak menghakimi, tidak melakukan tindak kekerasan. Namun mereka jelas akan menolak legalitas pernikahan sejenis, tidak akan memilih kaum LGBT sebagai anggota dewan, pemimpin daerah atau pembuat kebijakan publik, tidak akan mengonsumsi produk perusahaan yang secara terbuka mendukung LGBT, dan semacamnya.

Ketiga. Kelompok pendukung LGBT. Tidak perlu saya deskripsikan lebih lanjut karena cukup jelas.

Kalau menurut saya, kelompok kesatu dan kedua lah yang paling cemas terhadap isu LGBT ini. Meski kecemasan dalam bentuk yang berbeda juga ada di kelompok ketiga.

Lalu, perlukah merasa cemas?

Semalam, Kamis 11 Februari 2016, Kompas TV melalui acara Mencari Pemimpin yang dipandu Rosiana Silalahi mendiskusikan topik ini. Yang belum menyaksikan silakan cari di YouTube yaa🙂

Saya catat saja hal-hal yang menurut saya menarik:

1. Penggiat LGBT menolak disebut merekrut atau mempengaruhi orang untuk menjadi bagian dari mereka, dari ‘normal’ menjadi ‘tidak normal’. Mereka hanya ingin mengajak orang-orang untuk berani menjadi diri sendiri, apa pun pilihan hidupnya.

Di sinilah saya melihat sumber kecemasan masyarakat yang pertama. Faktanya, sejak kaum LGBT punya ruang untuk speak out, menyuarakan pikiran dan pendapat mereka, makin banyak pula orang yang menyatakan diri sebagai LGBT. Kenaikan jumlah ini, bisa jadi memang bukan karena berhasil direkrut. Tapi baru berani muncul setelah banyak ‘teman’nya. Ini lah yang masyarakat sebut sebagai LGBT itu menular.

2. Penggiat LGBT hanya menuntut dibuat aturan perundangan yang akan melindungi mereka dari kekerasan dan diskriminasi baik dalam hukum dan kesempatan berkarya. Mereka tidak menuntut legalitas pernikahan sejenis dsb.

Ini sumber kecemasan kedua.
Benarkah mereka akan berhenti di sini? Dulu, tidak ada satu pun negara di dunia yang melegalkan pernikahan sejenis. Masyarakatnya pun menolak keras. Sekarang, 17 negara lho yang sudah melegalkan, dan bukan mustahil akan semakin banyak. Dari 0 ke 17 itu ada prosesnya. Proses itu lah yang dikhawatirkan sekarang sedang terjadi di Indonesia.

3. Kaum LGBT ingin tidak terus menerus ditabrakkan dengan Pancasila dan agama.

Ini jelas sumber kecemasan ketiga. Sekelompok orang yang berpikir sekuler mungkin bisa begitu, tapi tidak dengan masyarakat yang ingin hidupnya berjalan sesuai dengan tuntunan agama.

Last but not least,
Apakah kecemasan dan perbedaan pandangan akan membuat kehidupan sosial kita menjadi disharmonis?

Saya sepakat dengan pendapat Pimred Gatra, sepanjang masing-masing pihak bisa menempatkan diri dengan baik. Maka disharmoni bisa dihindari.

Kaum LGBT ingin supaya masyarakat tidak menghakimi.

Oke, bisa.. Saya termasuk golongan kedua. Anti LGBT karena dalam ajaran agama saya, ini tidak dibenarkan. Tapi saya menerima salah seorang sahabat saya seorang pelaku LGBT, saya menyayanginya, menghormati pilihan hidupnya, tidak keberatan untuk berbagi kehidupan dengannya. Tapi jangan minta saya membenarkan perilakunya.

Kaum LGBT ingin diberikan kesempatan yang sama dalam berkarya dan mengaktualisasikan diri.

Bisa. Saya pernah punya anak buah dari kaum LGBT, saya tidak menghambat kariernya. Saya juga tidak keberatan berbisnis dengan mereka. Tapi jangan paksa saya untuk mengabaikan ke-LGBT-an mereka saat harus memilih wakil rakyat misalnya.

Kaum LGBT ingin bebas menyuarakan pendapatnya dan tidak mengalami kekerasan fisik maupun psikis.

Silakan.
Saya mendukung peraturan perundangan tentang anti kekerasan terhadap kaum LGBT. Saya juga bersedia bersuara, memberikan dukungan, perlindungan kepada mereka yang mengalami kekerasan.
Tapi jangan menginginkan saya berhenti menyuarakan bahwa pilihan kaum LGBT itu salah berdasarkan agama dan nilai-nilai yang saya yakini. Kita sama-sama boleh menyuarakan pendapat kan?😉

Kaum LGBT ingin media dan Pemerintah mengedukasi masyarakat supaya tidak usah phobia terhadap golongan mereka.

Ya tergantung isi edukasinya apa. Media itu netral. Mereka memotret dari dua sisi, sisi kaum LGBT dan masyarakat. Kalau mau mengekspos sisi LGBT saja, kenapa ngga buat media propaganda sendiri?

Pemerintah juga wajib mengedukasi masyarakat untuk tidak melakukan kekerasan, penindasan, penghinaan kepada kaum LGBT. Tapi jangan paksa Pemerintah untuk mengabaikan falsafah negara, Pancasila, yang di Sila Pertamanya nyata disebutkan bahwa negara berlandaskan pada Ketuhanan Yang Maha Esa, dengan menuntut hal-hal yang dibatasi oleh agama. Sampai di titik sekarang ini, saya belum menemukan satu agama pun yang memperbolehkan LGBT. Koreksi, jika saya salah.

Akhir kata, bila ada yang tidak sepakat dengan pemikiran saya. Andalan saya nih, salaman, dan bilang we are agree to disagree. Saya menghormati pemikiran Anda, tapi tolong hormati juga pemikiran saya.

PS: saya masih punya satu referensi lagi, cover storynya majalah Gatra. Saya tulis lanjutannya kalau ada yang menarik lagi🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s