Psychology of Emotional Blamer

Standard

“Semua ini bukan salah saya….”

 “Semua yang dia katakan tentang kesalahan saya itu mengada-ada…”

 

Pernah mendengar ini?

Ya, saya sedang bicara tentang orang-orang yang mempunyai masalah ketidakmampuan mengambil tanggung jawab atas hal-hal yang terjadi dalam hidup mereka atau atas kesalahan yang mereka lakukan.

Adakah di antara kita yang pernah mengalami  situasi konflik dengan seseorang, dimana kita tahu pasti dan bukti mendukung bahwa kita ada di posisi yang benar, tapi sang lawan terus menerus menolak fakta dan terus berkata bahwa kita lah yang salah?

Well, ini lah saat kita sedang berhadapan dengan Si Blamer..

Saya berikan contoh kasus saja.

Ada sebuah kasus perceraian A (suami) dan B (istri), dimana A mengajukan permohonan cerai pada Pengadilan Agama karena permasalahan perilaku berhutang kronis B dan sifat B yang terus menerus menghina keluarga, baik dari sisi materi maupun kesukuan A.

Terlalu panjang untuk diceritakan di sini tentang detil masalahnya, tapi tentu dapat dibayangkan, bagaimana seriusnya kedua masalah ini hingga mampu menyeret A dan B ke sidang perceraian. Akhirnya dengan segala bukti yang ada, Majelis Hakim memutuskan mengabulkan permohonan A dan berakhirlah pernikahan mereka yang telah berjalan selama 8 tahun.

Yang menarik dicermati setelahnya adalah, reaksi B terhadap kenyataan bahwa dirinya telah diceraikan. B menghubungi kawan-kawan A, bercerita tentang masalah mereka, namun tentu saja dengan versi B, yang intinya menjelek-jelekkan A, menuduh ini itu yang bahkan di luar konteks masalah, menulis di media sosial untuk menggambarkan betapa dia telah menjadi korban, menyindir bahkan memaki. Dan ini telah berlangsung selama lebih dari setahun, tanpa satu kali pun B terlihat berusaha melakukan perenungan, introspeksi, untuk mereview apakah ada kesalahan yang ia lakukan hingga semua berakhir kacau. Tidak ada.

Ini lah perilaku yang berakar pada masa kecil, dimana seseorang tidak pernah dididik untuk bertanggung jawab, atau mungkin melakukan modeling dari perilaku orang tuanya.

Saya mundur lebih jauh untuk melihat masa lalu B.

B adalah anak kelima dari tujuh bersaudara. Ayah dan ibunya tidak memiliki pendidikan formal cukup.  Si Ibu memiliki perilaku berhutang kronis, yang juga membuatnya sering diusir oleh suaminya, datang dan pergi, hanya hamil, melahirkan, lalu pergi lagi. Ini membuat anak-anaknya harus diasuh oleh X, si kakak sulung tujuh bersaudara ini.

Demikian B menghabiskan masa kecil dan remaja dengan asuhan seadanya dari X, yang memang tidak bisa dipersalahkan, karena memang bukan tugasnya. Hidup menyaksikan sang ibu berulang-ulang berbuat kesalahan, berhutang, tidak mengurus keluarga, meninggalkan anak-anak akhirnya tanpa disadari terinternalisasi dalam dirinya. Tidak bertanggung jawab pada kesalahan menjadi hal yang dianggap normal.

Seharusnya B bisa saja tidak menjadi produk yang serupa dengan ibunya, bila ada figur dalam keluarga yang membantunya paham bahwa hal-hal yang dicontohkan ibunya adalah salah. Namun rupanya sang ayah gagal menjalankan perannya, walaupun sebenarnya meskipun tidak berpendidikan formal, sang ayah cukup religius, namun karena kesibukannya bekerja, beliau tidak sempat memantau perkembangan pembentukan nilai-nilai pada anak-anaknya.

Kembali pada masalah perceraian tadi.

Dengan masalah psikologis yang telah berakar sejak masa kecil, perilaku menyalahkan B menjadi bisa dipahami. Baginya, berhutang dan tidak menghargai keluarga A adalah normal. Tidak ada yang salah.

Cukup parah? Belum.

Ada yang berpikir mengapa tidak ada sahabat atau keluarga yang mengingatkan?

Saya ulas tentang keluarga dulu ya..

Tidak satupun keluarga B yang ‘berani’ menarik B keluar dari zona nyamannya. Alih-alih mengajak B berpikir dan mengevaluasi masalah secara obyektif, menemukan faktor-faktor mengapa rumah tangganya hancur dan bertanggung jawab selayaknya orang dewasa, mereka justru secara membabi buta memberikan dukungan pada B atas nama solidaritas sebagai sesama anggota keluarga. Memilih berjamaah menutup mata terhadap fakta, dan memprioritaskan emosi semata.

Mengapa bisa begitu?

Dalam kasus ini, saya sebenarnya tidak memiliki akses cukup untuk membuat penilaian terhadap kakak-kakak B, namun informasi dari A, media sosial mereka, seperti menjadi kepingan-kepingan puzzle yang sedikit demi sedikit membentuk gambaran meski berlubang.

Adalah logis bila tujuh bersaudara yang tumbuh dalam sirkumstansi yang sama lalu berpola pikir sama. Mereka punya trauma emosional masa kecil yang sama, sebagai anak-anak yang terabaikan, ini membentuk yang namanya victim identity, wajar saja bila kemudian terbentuk semacam solidaritas yang berlebihan, mereka akan merasa kuat bila hidup secara komunal, sebagai jaringan, dan selayaknyalah jaringan saling mendukung satu sama lain, salahkan pihak diluar jaringan…😦

Yang paling menyedihkan dari ini semua adalah, jauh di lubuk hati, para emotional blamer ini, (selama mereka tidak punya masalah psikologis lebih berat ya), sebenarnya tahu mereka salah. Tapi tetap ‘memilih’ merasa benar. Mereka seperti sedang menimbang, lalu memilih yang lebih tidak menyakitkan secara emosional bagi dirinya.

Ingat kan tadi saya bilang dalam diri mereka telah terbentuk victim identity, mereka mempersepsi diri mereka adalah korban,  hidup mereka akan sering terasa penuh dengan kekecewaan dan rasa frustrasi, dan itu selalu disebabkan oleh orang lain. Sebenarnya mereka ini sedang terus menerus lari dari kenyataan, dan tentu saja  akan sering merasa hidup mereka melelahkan.

Disfungsi perilaku para emotional blamer ini membuat mereka sangat sedikit memiliki teman, karena mereka membuat semacam batasan, hanya akan mencari dan berteman dengan dengan orang-orang yang serupa dengan mereka, yang mau ‘mengerti’ dan ‘menyetujui’ mereka. Orang-orang yang berusaha menasihati pasti akan mereka tinggalkan. Ini tentu saja akan semakin memperparah keadaan, karena kesempatan mereka semakin sedikit untuk mempelajari perilaku yang benar, bertumbuh mendewasa dan sehat secara psikologis.

Emotional blamer sulit untuk bisa melangkah ke depan. Lalu bagaimana mereka bisa hidup dengan lebih baik? Jawabannya, tidak akan pernah bisa. What?

Yup.. selama mereka tidak segera menyadari bahwa ada yang salah dalam hidupnya dan ingin berubah, maka tidak akan pernah ada perubahan dalam hidupnya. Mereka cenderung terus memilih berada dalam zona nyaman, seperti halnya B memutuskan tidak akan memaafkan A dan akan selamanya merasa sakit hati. B akan terus menekan fakta bahwa dirinya yang bersalah dan terus menuding A sebagai pihak yang dzalim untuk memproteksi kondisi psikisnya.

Lalu apakah mereka tidak bisa dibantu?

Bisa, dengan usaha yang cukup butuh tenaga dan kemampuan ekstra. Karena mohon maaf, kita akan seperti berhadapan dengan orang-orang yang bebal.

Jadi apa yang harus kita lakukan kalau terpaksa berurusan dengan orang-orang seperti ini?

Hmmm… Kalau tidak cukup kuat untuk bisa membantu, maka maafkan..🙂

Dengan memaklumi dan memaafkan merek,a sebenarnya kita tidak sedang membebaskan mereka, tapi sedang membebaskan diri kita sendiri..dari rasa kesal, gemas, marah, dan sebagainya. Kita berdamai saja dengan kenyataan, menerima bahwa ada orang-orang yang  tidak mampu berpikir dan berperilaku seperti orang kebanyakan.

Maklumi… maafkan…

Mohon maaf, judul dan beberapa istilah tidak mampu saya tuliskan dalam Bahasa Indonesia, karena belum bisa menemukan padanan kata yang pas.. ada yang bisa bantu?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s