Ibu Tiri

Standard

Jujur saja, rasanya masih kurang enak ya setiap mendengar dua kata ini. Masyarakat sukses berat membentuk konotasi negatif tentang ibu tiri.

Beberapa hari lalu berita tentang Adit yang disiksa ibu tiri dan ayah kandungnya menambah deretan panjang kasus-kasus penyiksaan yang semakin memojokkan posisi ibu tiri, setelah sebelumnya ada kasus legendaris Arie Hanggara dan berikutnya, dan berikutnya.

Sayang memang, media jarang sekali memberitakan kesuksesan seorang ibu tiri mengasuh anak-anak tirinya. Mungkin karena prinsip “bad news is good news” ya, kalau berita baik-baik ngga ngejual hehehe.. Tapi coba lihat deh, kanan kiri.. pasti ada sosok ibu tiri yang berhati mulia.

Kita semua perlu belajar obyektif, melihat segala sesuatu berdasarkan kualitas asli si obyek, jangan mudah terbiaskan oleh stereotipe, lalu menghakimi oohh ibu tiri tuh pasti jahat, pasti membedakan anak kandung dan anak tiri, pasti baik cuma di depan ayahnya, pasti ini, pasti itu..😦

Yuk, saya perkenalkan sama beberapa teman dekat saya yang berstatus ibu tiri (nama-nama mereka bukan nama sebenarnya untuk melindungi privasi keluarga ya)

Pertama, mbak Putri (Jogjakarta), belum pernah menikah, lalu menikah dengan seorang duda beranak tiga yang usianya sudah remaja hingga remaja akhir, tidak punya anak kandung dalam pernikahannya.

Kedua, mbak Ayu (Jakarta), juga belum pernah menikah, menikah dengan duda beranak dua, anak-anaknya juga sudah remaja, saat ini punya satu anak kandung.

Kedua perempuan hebat ini punya cerita mirip. Tidak mudah pasti untuk seseorang yang belum pernah melewati masa mengasuh anak usia bayi, balita, anak-anak lalu harus berinteraksi dengan anak remaja. Si remaja itu sendiri sudah penuh dengan tantangan, belum lagi tantangan dari pihak mantan istri dan keluarganya.

Di periode awal, ceritanya serupa, bagaimana mereka harus menghadapi kecurigaan-kecurigaan anak-anak, kata-kata pedas dari mantan istri, tuduhan-tuduhan yang berkaitan dengan harta sang suami. Belum lagi hasutan, ancaman, bahkan konflik secara langsung yang pasti sangat menuntut kesabaran, kestabilan emosi dan hati yang bersih.

Tapi mereka terus saja berjalan, terus saja melakukan hal-hal yang harus mereka lakukan, mengusahakan perubahan ke arah yang lebih baik, tak peduli balasan dan tantangannya akan seperti apa.

Sekarang, rasanya saya ikut lega, ikut bahagia melihat kedua ibu tiri ini semakin punya hubungan baik dengan putra putrinya. Bahkan dengan mantan istri dan keluarga mantan istri suaminya.

Berikutnya ada satu orang tua murid di sekolah Arya yang menjadi ibu asuh anak-anak di SOS Children Village. Salah satu anak asuhnya adalah teman sekolah Arya, jagoan bola, andalan sekolah. Saya sering meleleh kalau lihat si anak ini menerima penghargaan sebagai pemain terbaik atau top scorer, terharu membayangkan betapa ibu kandungnya akan sangat bangga kalau berkesempatan menelihat momen-momen itu. Anak ini tumbuh dengan kasih sayang seorang ibu, yang juga memiliki anak-anak kandungnya sendiri. Tidak ada perbedaan derajat kasih sayang, bahkan beliau pernah bercerita, kadang di saat-saat tertentu beliau harus memprioritaskan anak-anak asuhnya.

Itu yang saya kenal secara pribadi, yang public figure? Siapa tidak kenal Anna Maria, Angie, bagaimana mereka mengasihi anak-anak tirinya? Siapa lagi yang teman-teman ketahui?

Saya beruntung mengenal orang-orang ini, melihat dan mendengar pengalaman mereka, jadi pada saat tiba giliran saya harus menyandang status ibu tiri, saya jadi jauh lebih siap. Dari mereka saya belajar tentang kasih sayang tak bersyarat. Belajar bahwa anak bukan hanya mereka yang tumbuh dalam rahim dan kita lahirkan. Belajar bahwa ibu tiri tidak untuk dan tidak akan pernah menggantikan ibu kandung.

Saya belum merasakan langsung mengasuh anak tiri, tapi sudah merasakan berbagai hal negatif sebagai konsekuensi menyandang status ibu tiri, cukup menguras energi heheee… :p

Saya berusaha mengerti saja, apabila seseorang ditugaskan menjalankan satu fungsi oleh Tuhan, maka ia pasti orang yang dipercaya. Tugas saya hanya belajar, belajar dan belajar terus untuk bisa menjalankan amanah-Nya.

Eh, bukan saya dan ibu-ibu tiri lainnya saja ding yang harus belajar, masyarakat juga harus belajar, untuk itu tadi, obyektif melihat satu hal, lalu belajar realistis, dalam kasus dan situasi tertentu ada keluarga yang harus merasakan relasi-relasi yang kurang ideal. Yang harusnya cukup ayah-ibu-anak, jadi harus ada ibu tiri atau ayah tiri.

Jadi, daripada terus menerus memupuk permusuhan pada ibu tiri, kenapa ngga diubah saja mindsetnya, anak-anak kita itu beruntung, karena punya sosok ibu tambahan yang akan bersama-sama mencintai dan membimbing mereka menuju tujuan hidupnya.

Selamat Hari Ibu, peluk hangat buat para ibu tiri.. tetap semangat dan penuh kasih.. Sebagai ibu, kita semua sama, “hanya memberi tak harap kembali”

2 responses »

  1. Aku juga ibu tiri dari ke5 ank tiriku….ibunya sdh meninggal..mrk ada yg msh kecil2 dan ada yg menginjak remaja.,,,berat bgt….semua sdh terlanjur mengecap ibu tiri itu kjm…tp ibu tiri bisa anggap ank tiri mjd ank kandung,…tp anak tiri tdk akan pernah menganggap ibu tiri sbg ibu kandung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s