Soekarno, The Movie…

Standard

Saya yakin, tidak akan banyak orang yang keluar dari bioskop tanpa merasakan apa-apa. Kalau nasionalisme yang meningkat dianggap terlalu berlebihan untuk diharapkan, setidaknya kami, yang sudah menonton film ini membawa satu tema besar dalam benak kami, INDONESIA, entah akan terbagi lagi dalam tema kecil yang seperti apa.

Sebagian mungkin akan merasakan kecintaan pada negeri yang kembali hadir, sebagian mungkin merasa malu akan diri sendiri melihat perjuangan tokoh dan masyarakat Indonesia pada masa itu, sebagian mungkin akan bertanya apa yang sudah saya lakukan buat bangsa ini, dan sebagian lagi, termasuk saya jadi punya banyak jawaban atas pertanyaan-pertanyaan seputar sejarah kemerdekaan Indonesia dan informasi baru tentang hal-hal humanis disekitar peristiwa itu.

Kejutan manis akan teman-teman dapatkan diawal film, ngga usah saya ceritakan ya, nanti sensasinya berkurang hehe.. lalu berturut-turut adegan-adegan yang mengalir memperkuat alur cerita.

Hanung Bramantyo membuat film ini dengan sempurna, selain setting dan kostum yang sungguh sesuai dengan masanya, ada dua hal yang menurut saya perfect. Pertama, skenario sangat memuaskan orang-orang seperti saya yang mudah merasa terganggu dengan disamaratakannya aksen bahasa Jawa Tengah dan Timur. Teman-teman akan merasakan sendiri nanti.. Jawa Timurnya bener-bener Jawa Timur. Juga bahasa yang dipergunakan sempurna mewakili gaya bahasa masa itu.

Kedua, casting film ini keren, kisruh pemilihan tokoh pemeran Soekarno dalam film ini terbayar dengan akting Ario Bayu yang sempurna. Kita tidak akan hanya bisa menyaksikan sosok Soekarno sebagai negarawan, namun juga sebagai manusia, sebagai laki-laki. Sosok kepribadian Ibu Inggit, Bung Hatta, Ibu Fatmawati dan lain-lain, juga matang tersuguh melalui para pemerannya.

Film ini, sungguh sangat saya rekomendasikan untuk disaksikan bersama keluarga, namun saya rekomendasikan untuk anak-anak minimal kelas 5 SD. Karena selain di level itu mereka sudah belajar sejarahnya, ada beberapa adegan yang membutuhkan usia cukup untuk mencernanya. Siapkan diri mendampingi anak-anak menonton adegan keputusan Soekarno mendatangkan pelacur bagi tentara Jepang, itu yang menurut saya agak-agak “lampu kuning”, selebihnya adegan kekerasan perang yang dengan pendampingan baik justru bisa kita manfaatkan untuk mengajak anak berpikir, perjuangan kita saat ini sudah jauh lebih nyaman dibanding masa-masa itu.

Seperti biasa, Hanung mampu meramu detil-detil kecil yang mampu menghasilkan senyum bahkan tawa saat air mata meleleh. Musik yang mengalun juga sempurna mengolah rasa penonton, menyeret pada suasana hati yang bersemangat, haru, bangga..

Adegan favorit?
Saat Ibu Fat membentangkan bendera merah putih yang dijahitnya ke meja, saat itu yang saya seperti diingatkan, perempuan sungguh bisa memilih untuk mau berperan atau tidak dalam setiap perjuangan, sesederhana apapun..

Dalam skala 10, saya memberikan skor 9, suami 8.5, dan Arya 10. Jadi rata-rata 
9 lah ya..

Kalau sudah nonton, gantian sharing reviewnya ya🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s