35 Tahun Yang Sempurna…

Standard

Alhamdulillah… nyampai juga di usia ke-35. Tuwek yo? Hehehe…

Ada yang sedikit berbeda tahun ini, saya melewati 30 Mei dengan tambahan satu orang baru.. Orang lama tapi baru ding, udah lama dikenal, tapi baru saja masuk sebagai anggota keluarga.. Alhamdulillah, dengan segala kelebihan dan kekurangan kami masing-masing segala sesuatunya sedikit demi sedikit membawa perubahan baik dalam hidup saya. SemogaTuhan panjangkan jodoh kami, diijinkan-Nya kami saling menjaga dan melengkapi hingga akhir usia.

Tahun ini saya belajar lagi tentang menerima ketentuan Allah, bahwa segala rencana yang menurut saya baik, usaha yang menurut saya keras tidak bisa menghasilkan sesuatu yang saya inginkan. Saya harus terima, ikhtiar saya mempertahankan rumah tangga setelah didera konflik bertahun-tahun berbanding terbalik dengan hasilnya, kami harus berpisah. Usaha yang saya bangun dari nol, berkembang, lalu harus dipindahkan dan mulai dari awal lagi di Jakarta perlahan kolaps.

Tahun ini juga saya belajar lagi tentang cara untuk bangkit. Sekilas memang saya ngga kelihatan kenapa-kenapa, tapi yang selalu ada di kanan kiri saya pasti tahu seperti apa saya tiarap berbulan-bulan. Untuk bisa bangkit itu selain perlu energi dari diri sendiri ternyata juga perlu menanggalkan kesombongan,ngga boleh sok kuat, sok bisa sendiri, saya ‘harus’ minta sama Sang Penguasa Hati, untuk dititipi hati yang kuat, tidak cengeng.

Tahun ini juga saya semakin meyakini bahwa anak adalah benar-benar titipan Tuhan, yang bisa dititipkan-Nya dengan cara apa pun.. APA PUN.. Sejak dulu saya termasuk orang yang berprinsip, untuk jadi orang tua itu ngga harus dengan melahirkan sendiri. Memang itu akan melengkapi keseluruhan proses dan membuat kita merasa lebih komplet. Tapi tidak mutlak. Dan tahun ini saya merasakan sendiri ternyata bila Tuhan berkehendak menitipkan seorang anak pada kita, akan dititipkan-Nya pula kasih sayang yang sama seperti bila kita melahirkan anak sendiri. Saya membuktikan ini dengan sebuah perasaan sedih dan kehilangan, perasaan bersalah karena tak mampu berbuat maksimal menjaga. Bahkan untuk seorang anak yang belum sempat saya temui, peluk dan belai.

Tahun ini saya belajar, ternyata duka lebih bisa dihapus dengan saling menguatkan, bersama-sama tidak mendramatisir peristiwa dan berusaha mencari hikmahnya saja.

Tahun ini saya belajar lagi untuk menang tanpo ngasorake.. nah, ini yang sulit.. apalagi saat menghadapi pihak yang kalah ini bereaksi ajaib, tak masuk akal. Saya harus belajar menguasai diri agar tak mudah bereaksi saat menghadapi teror, tetap tegas tanpa emosi saat menghadapi fitnah, belajar tenang agar bisa memandang masalah secara proporsional.

Aahhh..
Tahun ini Tuhan melengkapi hidup saya dengan pengetahuan-pengetahuan baru.. menyusun 35 tahun yang sempurna.. Alhamdulillah…

Posted from WordPress for Android

One response »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s