Jangan Mudah Merasa Terdzalimi

Standard

Beberapa hari ini saya melihat seseorang mengupdate status tentang dirinya yang terdzalimi. Lalu mengatakan bahwa dirinya akan sabar, lalu mengatakan biarlah Tuhan Yang Maha Tahu yang akan membalasnya..

Saya tercenung membacanya berulang-ulang.. lalu seperti biasa mulai berpikir, berusaha me-recall pelajaran-pelajaran yang tersimpan dalam memory saya yang terbatas ini.

Buat saya ini menarik, saya tidak mengatakan ini salah ya..saya bilang ini menarik..hehehe…

Menarik dari apanya?

Dari perspektifnya. Saya pribadi, lebih sering melihat orang mengaku terdzalimi, jarang yang mengaku mendzalimi *yaeyalahhhh*. Maksud saya, banyak sekali orang dengan mudah merasa terdzalimi, lalu mengumbar emosinya, baik secara terang-terangan mengumpat/memaki, atau menyumpahi secara halus seperti yang saya sebutkan di atas. Merasa berhak marah, merasa berhak mendoakan yang buruk, karena sudah terbenam dalam platform berpikir, doa orang terdzalimi itu akan didengar Tuhan.

Fenomena yang mirip dengan ini adalah tentang konsep surga di telapak kaki ibu. Lalu, para ibu banyak yang menjadi besar kepala, merasa punya wewenang dahsyat untuk ‘menguasai’ sang anak dengan dalih dia lah pemegang kunci surga.

Dua konsep tadi tidak ada yang salah kan.. tapi kenapa kita tidak mendudukkannya dari perspektif yang berbeda.

Pertama.
Konsep tentang dzalim, menurut saya lebih baik kita jadikan pencegah bagi setiap kita untuk berhati-hati agar sikap/tingkah laku kita tidak dihitung sebagai perbuatan yang dzalim.

Kedua.
Konsep tentang ibu dan surga, lebih baik digunakan dengan perspektif anak, bagaimana kita sebagai anak memahami konsep ini untuk belajar memuliakan ibu.

Dengan ‘hanya’ mengubah perspektif saja, pemahaman kita terhadap kedua konsep tadi saya rasa bisa banyak berubah.

Kembali ke perkara terdzalimi tadi, beberapa tahun lalu saya pernah dinasihati guru ngaji saya, kata beliau, “Jangan jadi orang yang mudah merasa terdzalimi, karena itu akan menghalangimu untuk adil melihat suatu perkara”

Beliau menjelaskan lebih lanjut, pada titik orang merasa didzalimi, maka emosi yang akan banyak mendominasi dirinya. Itu lah yang menjadi penghalang untuk adil, karena seseorang bisa menjadi sulit untuk melihat akar masalah, penyebab, lebih-lebih melakukan introspeksi.

Nasihat guru saya itu mengingatkan saya pada ucapan Ayah saya, pada saat saya mati-matian menyalahkan mantan suami yang meninggalkan saya dan Arya tanpa memberikan nafkah sedikit pun. Bayangkan, di masa saya butuh dibela, Ayah saya justru bilang, “Wes, diomong salah yo salah, tapi kowe yo kudu iso ngilo githokmu dewe”, artinya “Sudah, dibilang salah ya salah, tapi kamu juga harus bisa berkaca utk melihat kesalahanmu juga”. Lumayan jlebbb tuh…

Kedua bekal itu yang berhasil menggeser sudut pandang saya, Alhamdulillah sampai saat ini. Keuntungannya, hidup saya terasa lebih ringan, saya ngga gampang sakit hati, saya mau banyak mendengarkan, saya juga jadi lebih mudah memahami dan memaafkan. Ringan…!!

Well, pilihan selalu ada di tangan kita, mau meringankan atau mempersulit hidup?🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s