Kompak

Standard

Baru saja, ada satu keluarga bertanya tentangan kontrakan di sebelah rumah saya. Ayah, Ibu, 1 anak.. keluarga muda, si suami dan istri perkiraan saya masih di bawah 30 tahun.

Karena kebetulan saya tahu, saya beri informasi harga sewanya lalu saya arahkan ke pemilik rumah untuk informasi lebih jelas. Namun karena hujan, mereka numpang berteduh di teras rumah.

Samar terdengar dari dalam rumah, si ayah berkata, “kalau bisa 6 bulanan ya 6 bulan aja, berarti berapa tu ya? Xjt ya? Hmmm”, dengan ekspresi wajah berpikir. Lalu si istri menjawab dengan nada tenang, “kalau ngga sanggup ngga usah dipaksain lah, cari yg lain aja”

Nyes…

Well, saya bukan ahli micro expression, meskipun pernah belajar ilmu perilaku. Ini sekedar intuisi saya saja. Saat pertama kali melihat wajah si ayah itu, intuisi saya mengarahkan ke perkiraan bahwa dia adalah seseorang yang mau mengusahakan yang terbaik untuk keluarganya. Jadi kalimat yang muncul tadi saya rasakan bukan sebagai keluhan, yang bisa diartikan sebagai “mahal amat, duit segitu, mana sanggup, duit dari mana”, tapi lebih dengan muatan positif, “segitu bisa ngga ya, harus diusahakan gimana ya”

Dan jawaban si istri menguatkan perkiraan saya.

Lalu terpikir oleh saya. Ini mungkin ya yang namanya kompak.

Duluuuuu sekali, saya pernah dinasihati seorang tante, untuk bisa sukses dalam pernikahan, kalian harus kompak. Kompak di tahun 2000 itu masih abstrak buat saya, seperti apa ya? Seperti tim olahraga? Seperti tim kerja? Realnya, bagaimana?

Kompak bisa jadi diterjemahkan beda oleh masing-masing pasangan. Hari ini saya mengartikan itu sebagai sebuah usaha dari satu pihak untuk mempermudah tugas pasangannya. Contoh yang saya lihat tadi, tugas suami memberikan tempat tinggal yang layak, maka istri bertugas mempermudah, dengan tidak men-untut rumah yang tidak mampu disediakan suaminya dengan penghasilannya.

Perasaan nyesss yang saya rasakan tadi, saya rasakan sebagai kedamaian, saya tidak tahu, tapi mungkin saja benar, si suami merasa lega, tak harus memaksakan diri menyewa rumah tadi. Merasa tenang, karena si istri mau bersabar mencari lagi.

Pasti tenang sekali ya rasanya, kalau masing-masing pihak menyadari tugasnya, lalu melakukan tugasnya dengan sebaik-baik usahanya, lalu pasangannya mau menghargai usaha itu dan terus mempermudah satu sama lain.

Dan itu memaksa saya berkaca. Sebagai anggota tim,apakah saya sudah bisa mempermudah pasangan saya untuk menjalankan tugasnya?

Ahhh, tutup muka.
Sepertinya belum deh.. saya dan sifat perfeksionis saya sering memaksa diri untuk harus mendapatkan yang sempurna. Bukan hal yang salah memang, tapi jadi salah kalau saya lupa di sebelah saya ada pasangan saya. Kalau saya jalan sendiri sih, terserah lo deh Bubu. Lo yang bikin-bikin target susah, lo yang stres-stres sendiri. Kata hati kecil saya.. :p

Well.. mumpung belum terlambat. Mumpung saya punya kesempatan memulai dari nol lagi. Pelajaran saya sore ini adalah KOMPAK. Saya harus belajar mempermudah pasangan saya menunaikan tugasnya.

*terima kasih ya mas mbak, semoga kalian diberi rejeki yang cukup dan tetap kompak, menginspirasi keluarga-keluarga lainnya*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s