I’ll Be Allrite..

Standard

When two becomes one..

Biasanya kalimat di atas dibaca dalam konteks bahagia ya.. tapi tidak dalam konteks cerita saya.

Rupanya ramalan Suku Maya tentang kiamat ada benarnya, setidaknya kiamat kecil dalam hidup saya. Hancur.. sebagian besar hancur di tahun 2012 ini. Seperti yang pernah saya ceritakan sebelumnya, perpisahan saya adalah pemicu segala kehancuran yang saya alami, yang berikutnya diikuti dengan hancurnya usaha dan beberapa sendi hidup saya yang lain.

Tiga bulan sudah..

Saya melewatinya dengan segala pasang surut, kadang optimis, tapi tak jarang juga pesimis.  Kadang yakin, tapi resah juga tak kunjung hilang..

Sungguh.. Tidak mudah membiasakan diri melangkah dengan satu kaki.

Lalu pagi ini saya terbangun dan seketika teringat, 31 Desember, hari terakhir di 2012, gila ya.. saya setengah tidak percaya, saya ‘berhasil’ keluar dari masalah yang telah membelenggu saya bertahun-tahun.  Lalu muncul pertanyaan apakah ‘keberhasilan’ saya ini akan saya isi dengan segala keraguan?

Sore ini saya mendapat jawabnya.

Di Pasar Cibubur, saya bertemu dengan seorang ibu pengamen dan anaknya berusia 12 tahunan yang mengalami keterbatasan mental. Setiap si anak menunjukkan wajah kecewa karena tidak mendapat uang, sang ibu memeluk dan berkata “ngga dikasih, ngga apa-apa”, lalu menggandeng lengan dan mengajaknya berpindah ke sebelah dan seterusnya dan seterusnya, berulang-ulang.

Saya seperti melihat diri saya dan Arya.

Seorang ibu dan anak laki-lakinya. Berdua.  Berusaha menghadapi hidup.

Bedanya, saya jauh lebih berdaya, Arya juga jauh lebih baik kondisinya.

Saya terhenyak. Bukankah memang tugas seorang Ibu untuk meyakinkan anaknya bahwa segalanya akan baik-baik saja? Lalu bagaimana mungkin seorang Ibu bisa membuat si anak yakin, bila dirinya sendiri telah kehilangan keyakinan. Bodohnya saya…

Maka sejak sore tadi, saya kumpulkan lagi harapan saya yang terburai.

Kalau si ibu pengamen itu sanggup memberikan senyum penuh pengharapan, saya juga harus bisa.

Malam ini, di penghujung tahun, dan semoga berlanjut di hari-hari baru tahun yang akan datang, saya tidak perlu merasa telah mengalami kiamat lagi, justru bersyukur, saya masih diberi keberanian untuk membuat langkah, membuat keputusan, meskipun berat akibatnya.

Seperti si ibu pengamen yang tak lepas menggenggam tangan anaknya, saya juga akan melakukan hal yang sama. Saya akan genggam kuat tangan kakak, meyakini kami akan baik-baik saja, dan move on…

Melangkah lagi, bersama mereka, sahabat dan keluarga  yang setia menemani kami. Bersama seseorang yang berani mengambil resiko masuk dalam hidup kami dengan segala keruwetannya.

Bismillah..

Saya tidak membuat target apa pun untuk hidup saya setahun ke depan.

Hanya berharap dengan sangat, semoga Tuhan memelihara saya dalam harapan, menguatkan saya dalam melangkah, memampukan saya untuk tersenyum pada dunia dan meyakini  bahwa saya akan baik-baik saja.

Doa yang sama untuk teman-teman di luar sana yang sedang merasakan kegamangan yang serupa. We’ll be allrite!! Insya Allah…🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s