Satu Hancur, Semua Hancur?

Standard

Saya pernah menulis, sebaik-baiknya dan semulus-mulusnya proses perpisahan, tetap saja tidak ada perpisahan yang baik. Karena perpisahan pasti lah diawali dengan konflik, dimana konflik tersebut mengakibatkan ketidakpuasan pada hubungan yang berujung pada ketidakbahagiaan. Ini bisa terjadi pada salah satu pihak saja, bisa juga terjadi pada keduanya.

Seandainya konflik yang mengawali perpisahan itu dirasakan memberi efek pada kedua belah pihak, biasanya proses berpisah akan menjadi lebih “mudah”. Sadar bahwa hubungan mereka hanya akan membawa mereka ke arah negatif, lalu dengan atau tanpa kehebohan dan huru-hara, mereka sepakat berpisah.

Yang jadi masalah adalah, apabila ketidakpuasan pada satu hubungan hanya dirasakan oleh satu pihak, lalu merasa tidak bahagia, lalu memberanikan diri untuk berpisah. Sementara di sisi lain, pasangannya yang selama ini merasa semua baik-baik saja, lalu merasa dikhianati, ditinggalkan, dicampakkan, dan merasa berhak untuk kecewa dan marah.

Kecewa dan marah itu wajar, sangat wajar. Siapa yang tak marah saat apa yang ‘dimiliki’nya tiba-tiba lepas? Tak ada seorang pun akan mudah menerima kondisi ini. Pertanyaannya adalah, apakah benar ia pantas marah? Pantas kecewa?

Pertanyaan ini layak dipikirkan oleh siapa saja yang sedang merasa berhak untuk marah. Lalu merasa berhak pula untuk melampiaskan kemarahannya dengan caranya.

Saya baru-baru ini menemui beberapa pasangan yang kelihatannya ‘mendadak’ berpisah. Satu pihak merasa ini lah puncak ketidakpuasannya terhadap pernikahan, setelah bertahun-tahun berusaha membawa pasangan dan pernikahannya menuju ke satu titik yang lebih baik, namun berujung pada kegagalan. Lalu memutuskan untuk berpisah.

Pasangannya bisa saja berpikir pihak pertama ini yang egois, tapi bagaimana bila ternyata dirinyalah yang sebenarnya menjadi sumber masalah, tidak pernah mau saling mendengar dan membuka diri pada satu komunikasi dua arah yang sehat, tidak pernah introspeksi dan merasa semua ‘baik-baik’ saja.

Masih pantas kah ia merasa berhak untuk marah dan melampiaskan kemarahan dengan cara-cara yang destruktif? Merasa perasaan dan hidupnya hancur, lalu juga merasa berhak menghancurkan hidup mantan pasangannya. Membuat isu, menyebar fitnah, berniat mempersulit hidup mantan pasangannya, menjauhkan dari anak-anak, memberikan informasi yang sesat pada anak-anak, dan berbagai perilaku destruktif lainnya.

Sangat disayangkan bagaimana hingga di saat akhir hubungan pun, seseorang masih saja berkeras hati merasa menjadi pihak yang benar dan selalu benar. Menutup mata hatinya dan lupa perilaku destruktifnya akan membawa korban lebih banyak, terutama anak-anak.

Kembali ke awal, perpisahan itu sendiri sudah cukup sulit dan menghancurkan. Masih perlukah berkeras hati menyatakan satu hancur, semua hancur?

Tanyakan pada hati nurani..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s