Mengapa Berpisah?

Standard

Mengapa berpisah?

Begitu tanya seorang kawan, yang sebetulnya relatif dekat namun memang tidak banyak tahu tentang detil kehidupan saya. Satu, dua.. lalu muncul lagi beberapa kali pertanyaan yang sama.

Pertanyaan terakhir ada tambahannya, berbau keheranan karena membaca beberapa tulisan terdahulu di blog saya tentang Baba, yang sama sekali tidak menampakkan adanya masalah dalam pribadinya.

Bingung juga saya menjawab pertanyaan ini, karena inti permasalahannya adalah satu hal yang saya tak siap membaginya sekarang. Tapi saya merasa perlu menjawab, karena sudah saya dengar beberapa komentar keliru di luar sana, harus saya luruskan..

Tak benar bila ada yang berkata ini ada kaitannya dengan pihak ketiga atau masalah materi. Hampir satu dasawarsa kami bersama, berjuang melewati pasang surut, benar-benar berjuang, bodoh sekali rasanya kalau kami menghancurkannya karena hal-hal seperti itu.

Yang jelas, saya memutuskan keluar dari lingkaran masalah yang berulang. Saya tak ingin lagi membebani beliau dengan tuntutan saya yang tidak akan pernah bisa beliau penuhi. Saya tak ingin lagi membenci diri saya sendiri yang tidak juga berani memperjuangkan kebahagiaan dan ketenangan hidup. Juga tidak ingin memupuk benci karena ketidaksanggupan beliau memenuhi harapan saya.

Saya tidak ingin lagi mengorbankan kesehatan mental kami berdua, menjalani kehidupan pernikahan yang semakin mengarah pada situasi saling menuntut, sekaligus saling mengabaikan.

Perpisahan tidak ada yang baik.
Pasti menyakitkan. Pasti menghancurkan. Tapi saya berusaha tidak melarutkan diri. Saya menghindari kebencian, begitu juga saya yakin beliau akan melakukan hal yang sama, karena sejatinya memang tidak ada yang perlu dibenci dari diri kami masing-masing. Kami hanya sama-sama tak sanggup lagi untuk saling memenuhi kebutuhan/keinginan.

Saya menghormati beliau, sampai detik ini, dan semoga hingga kapan pun. Karena beliau lah orang yang sanggup menjaga dan meluruskan saya selama ini. Tanpa beliau, belum tentu saya sanggup menghadapi ujian naik kelas dalam hidup saya. Juga beliau lah orang yang ikhlas menerima Arya layaknya darah dagingnya sendiri, mendidik dan membesarkannya dengan rasa kasih dan tanggung jawab jauuuuhhh melebihi ayah kandungnya. Beliau bisa menjadi mantan suami saya, tapi selamanya tidak akan pernah menjadi mantan ayah Arya. Semoga kelak Arya bisa membalas budi baik beliau yang tak terhingga.

Dengan apa yang telah saya ungkapkan ini, semoga tak ada lagi suara sumbang di luar sana, terlebih tentang Baba.

Doakan kami, setelah perpisahan ini, kami bisa terus tumbuh dalam kebaikan. Saling mengingat dalam kebaikan. Hingga suatu saat nanti kami bisa bersahabat baik sebagai dua keluarga baru.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s