Nama Baik

Standard

Kemarin saya membaca status seseorang di Facebook yang intinya menyatakan tentang pentingnya punya nama baik.

Saya jadi terpikir, apa sih nama baik itu?
Sepenting apa nama baik bagi kehidupan seseorang?

Saya mau cerita sedikit, di beberapa Idul Fitri terakhir, saya sering dibuat ternganga oleh karyawan saya. Mereka sudah gajian, dapat THR pula, tapi masih minta kasbon. Gila! Pikir saya. Serius nih, sudah dua kali gaji masih kurang juga? Penasaran, saya tanya dong.. ternyata, kebutuhan keluarga sudah dimulai sejak sebelum puasa. Ada yang namanya tradisi Munggahan, yang ternyata banyak juga menyedot sumber daya. Lalu, kebutuhan menjelang dan saat Idul Fitri. Mulai dari baju baru, kue-kue, transportasi, uang angpau, dsb. Saya tanya, kalau misal ngga memaksakan melakukan itu semua bagaimana? Mereka jawab, tidak bisa, karena bisa jadi omongan tetangga/keluarga. Nahhh.. nama baik nih urusannya?

Lalu ada cerita lain lagi, ada seseorang yang kemarin ini sempat ketakutan foto-foto pribadi dengan mantannya tersebar di dunia maya karena sang mantan tidak terima dengan perihal putusnya mereka lalu mengancam akan menyebarkan foto-foto tersebut. Saya bilang, hadapi saja, memang berat, tapi mau gimana lagi. Resiko dari membuat dan berbagi foto-foto pribadi ya itu. Nama baik lagi bukan ini?

Ada juga orang-orang yang memilih menuliskan puluhan kata mesra, hal bahagia, foto-foto travelling keluar negeri, prestasi anak-anak, dan hal baik lainnya di media sosial, tapi tidak tentang hal buruk. Berkaitan dengan nama baik?🙂

Ada lagi, orang-orang yang mengharuskan diri mengikuti banyak kegiatan di lingkungannya, meskipun tidak sepenuhnya tertarik,bahkan cenderung terpaksa. Belum lagi orang-orang yang memutuskan untuk selalu jaga image di setiap kesempatan. Masih ada hubungan dengan nama baik juga?

Sepenting apakah nama baik, hingga harus membuat orang begitu boros mengerahkan sumber dayanya? Lalu apa artinya nama baik apabila didapat dengan cara-cara yang tidak membahagiakan dirinya.

Jawaban pertanyaan di atas pasti akan sangat berbeda pada masing-masing orang. Semua bergantung pada frame of referencenya.

Tertempa pengalaman, saya pribadi sih keukeuh memegang prinsip untuk jadi diri sendiri tapi dalam versi terbaiknya. Nama baik penting buat saya, bukan demi sebuah puja puji, tapi lebih pada seperti apa saya akan dikenang nanti pada saat saya tidak ada.

Itu juga yang membatasi saya untuk tidak berusaha terlalu keras menjaga nama baik pada ranah yang terlalu luas. Saya sadar, tidak mudah menyenangkan semua pihak. Saya juga sadar, saya punya banyak keterbatasan. Cukup lah, saya baik di mata inner circle saya. Cukup lah saya yakin, mereka kelak akan mengenang saya dalam hal-hal baik. Di luar itu, saya tidak mau terlalu memaksa.

What about you?😉

One response »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s