Sebelum Sebal Berubah Jadi Benci…

Standard

When objection slowly turns into hate, here comes the red alert.. *self-control pls Bubu*”

Itu tweet saya pagi ini. Asal muasalnya adalah beberapa gesekan yang terjadi antara saya dan seseorang, karena perbedaan kebiasaan kami. Kami cukup kompak sebenarnya, karena relasi kami ini dibangun di atas kumpulan nilai-nilai yang sama. Banyak prinsip kami yang sejalan. Tapi jangan salah, justru gesekan itu muncul dari hal-hal remeh yang tidak saya prediksi sebelumnya.

Seperti relasi pada umumnya, kami lebih banyak membicarakan hal-hal ‘besar’, untuk ‘uji materi’, kami sejalan nggak. Dan kami membiarkan hal-hal kecil mengalir begitu saja, lalu terkaget-kaget, ohhh ternyata yang kecil-kecil itu bisa bikin risih juga ya. Huuhhh…

Awalnya risih, saya ingatkan, sekali, dua kali, lalu kalau belum ada perubahan mulai sebal.

Yakkk.. red alert!!

Sebal itu punya daya hancur lho.. meskipun kecil. Analoginya, batu kalau ditetesi air terus menerus lama-lama berlubang juga. Dari sebal, muncul ngomel, ngomel kalau ngga didengerin sakit hati, sakit hati yang bertumpuk bikin benci. Kalau sudah ada di titik benci, amblas lah sudah segala kebaikan dari relasi itu. Diakhiri susah, dilanjutkan terlalu menguras energi.

Saya sudah pernah melewati masa-masa itu..sudah pernah merasakan bergesernya rasa keberatan sampai benar-benar jadi benci. Saya harus berhenti. Untuk kebaikan saya sendiri. Berhenti maksudnya bukan berhenti untuk keberatan. Nahan-nahan, sok nerima-nerima saja. Wahhh, itu sih cari masalah baru.

Maksud saya, saya harus berhenti nyinyir.
Berhenti terlalu banyak mengkritisi, tapi ngga menawarkan solusi, atau setidaknya mencari win-win solution lah..

Saya harus belajar untuk obyektif.
Ketika saya keberatan atas sesuatu, fokus sama sesuatunya, bukan sama pelakunya. Jadi cukup lah saya bilang, misal:
“Saya agak terganggu kalau kamu sibuk sama gadget saat kita lagi bicara, bisa ngga urusan online ditunda nanti aja?.”

Tanpa perlu bilang,
“Kamu tuh memang orangnya gitu ya, kebiasaan, setiap kali bicara, pasti sambil sibuk pegang gadget.”

Eh btw, contoh ini berasa saya lagi ngomong sama diri sendiri…hehehhe…

Saya juga harus belajar santun dalam berkomunikasi. Tidak terlalu banyak bicara dengan nada menuntut, tidak keminter saat mengingatkan tentang sesuatu yang menurut saya keliru, tidak mengulang-ulang omelan semacam kaset rusak :p

Belajar mau mendengar.
Nah, ini.. salah satu sikap buruk saya adalah dominan. Saya jadi cenderung merasa benar, sulit menerima penjelasan, sulit menerima alasan. Belajar menerima perbedaan. Kadang sesuatu terlihat keliru bukan karena secara substansial itu memang keliru. Tapi bisa juga karena kebiasaan saja. Sama-sama benar, tapi karena kita tidak terbiasa melakukan dengan caranya, jadi lah itu terlihat ‘salah’. Saya harus banyak belajar menerima, beda cara bukan berarti salah.

Terakhir, belajar menerima seseorang, just the way they are… Satu paket lengkap, ada plus, ada minusnya juga. Belajar untuk fokus sama plusnya, jadi sumber kekuatan. Minusnya dihadapi dengan lebih ‘santai’, dengan semangat “tak ada manusia yang sempurna”, sama-sama cari solusinya.

Ngomong memang gampang, prakteknya susyahhh cyiinnnnnn…mana banyak bener yang harus saya pelajari. Hihihiii..

Tapi demi sebuah relasi yang sehat, memang harus diupayakan. Bukan begitu bukan?😉

One response »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s