Catatan Lama #10 (was: 32 days to 32)

Standard

Re-post from Facebook, May 27, 2010

 

Semua dari kita pasti punya hal yang berpengaruh sedemikian besar dalam hidup kita.. begitu juga saya.. seperti yang saya tulis di status tadi.. gempa Jogja empat tahun yang lalu adalah salah satunya..

04.50 
Bangun, subuh, ngelanjutin packing.. baca koran…saat itu saya masih ngekos di Jogja.. konsentrasi ngerjain tugas negara judulnya hehehe.. alhamdulillah kakak lagi di Surabaya..

05.30 
mandi.. siap-siap.. rencana pagi itu mau ke Surabaya, kereta jam 7.15 pagi, ada kewajiban pekerjaan dan mau jemput kakak…

05.50 
mumpung belum lupa.. cabut-cabut semua kabel, cek listrik2.. sebelum ditinggal mudik

05.55 
saat saya masih di kolong meja kerja nyabut kabel laptop… tiba terasa getarannya.. wah wah wah..apa nih.. kok goyang2.. masa kepala saya pusing karena tekanan darah turun sih? Tapi kok gini.. kenapa yg berasa di kaki.. jedugggg… lupa lagi kolong meja dan asal bangun aja.. begitu berdiri.. Masya Allah… Merapiiii…. Saat itu, Merapi memang sedang dalam pengawasan ketat.. karena sedang meningkat aktivitasnya..

55 detik yang menegangkan…
lolos dari kolong meja, lemari buku yang jaraknya hanya 10 cm dari meja kerja sudah miring 45 derajat.. haduhhh… secara kamar kost…yang ukurannya mungil, saya loncat ke atas tempat tidur berharap ngga ketiban lemari.. dan segera loncat lagi ke arah pintu kamar, kunci..kunci… tangan dan semua yang bergetar hebat membuat saya kesulitan memasukkan kunci ke lubangnya.. begitu klik.. lahhh sudah susah dibuka.. ya Allahhhh… sementara itu telinga saya sudah mendengar brukkkk, lemari sudah rubuh, prang… piring pecah.. pyarrr… blender jatuh… gubrak… bruk bruk.. buku2 teks yg tebalnya ngga kira-kira itu mulai jatuh satu per satu dari lemari yang lain…

Lolos dari kamar… saya menengok ke utara tempat Merapi bertahta… tidak ada kepulan asap, tidak ada apa-apa.. hanya langit biru… ada apa ini ya Allah…
Mata saya menangkap teman-teman sebagian sudah ada di halaman kost..
Telinga saya mendengar suara-suara kebingungan dan pertanyaan-pertanyaan yang saya yakin saat itu kami semua tidak punya jawabnya..

Segera otak saya mengarahkan kaki ke gerbang.. meskipun halaman kost kami terbuka, logika saya berkata kami tetap harus keluar, karena bukan tidak mungkin ada resiko lain dan terlalu riskan untuk tetap berada di dalam… dan Astaghfirullah… pintunya tidak mau terbuka, terlepas dari relnya.. siapa sangka.. kami perempuan2 akhirnya bisa menggeser pintu yang lebarnya kira-kira 2 x 2m, tinggi 2.5 meter.. besi semuaaa…hahaha…

06.00 
di luar kost, semua terlihat tenang.. di gang kami, tidak tampak ada rumah roboh… tidak terlihat kehebohan.. ahhh..tenang… tidak ada apa-apa… kaki terus melangkah… ke luar gang, ingin tahu nasib Plaza Ambarrukmo yang hanya selisih beberapa puluh meter.. masya Allah… retakan itu mulai memicu pertanyaan… apakah ada yang luar biasa??

Dan lalu… muncul getaran-getaran gempa susulan… yang membuat kami mulai panik… ada apa lagi?

Kami berusaha mencari tahu, telepon mati, ponsel mati, listrik padam, tidak ada TV, tidak ada radio.. dan diluar sana, suara-suara mulai bersahutan…

Astaghfirullah… ada apa sebenarnya… panik..SAYA PANIK…
Dan ditengah kepanikan karena semua yang serba tidak jelas… “air laut naiiikkkkk….” teriakan itu mendadak membuyarkan logika kami semua… kami ramai-ramai mencari tangga… naik ke lantai 2, sesampai di lantai 2, kembali terasa semua bergetar, kami takut roboh, terpikir hendak turun lagi… ya Allaaahhhhh… tidak ada yang tahu apa yang paling tepat untuk dilakukan saat itu…

Chaos… otak, hati dan sekitar saya…

Dalam kondisi itu, tiba-tiba saya tergerak kembali ke kamar… ambil wudhu dan sholat… entah sholat apa saat itu.. saya pun lupa niatnya apa.. niat atau nggak juga lupa.. bodoh yaa? Yang jelas niatnya cuma satu, menenangkan hati…

Dalam 4 ruku dan 4 sujud itu, barulah saya menangis… seperti ini kah rasanya dihadapkan dengan resiko bencana… doa saya saat itu (yang juga mungkin tidak terucapkan dengan adab yang benar) hanya, berikan ketenangan…hanya ketenangan…supaya tidak perlu bertindak bodoh..

Semua peristiwa itu terjadi dalam waktu yang singkat… semua terjadi secara cepat… tidak terbayangkan…

Beberapa jam kemudian… 
Siaran radio sudah mulai bisa ditangkap lewat ponsel teman.. Sonora kalau nggak salah… dan dalam laporannya, disebutkan ratusan korban… beranjak ke angka ribuan… astaghfirullah… ternyata kami sedang menghadapi sesuatu yang tidak kecil..

Dalam keadaan yang mulai tenang, mulai lah kami saling memperhatikan, menenangkan, menguatkan… kami sama-sama jadi perantau yang jauh dari keluarga, rasa senasib itu lah yang mendekatkan dan menyatukan kami…

Saya mulai bergerak keluar… mencari informasi… apakah saya tetap bisa berangkat ke Surabaya.. karena memang harus pergi… mencari dimana kami bisa beli makan…
Dan di luar sana batin saya makin tak menentu… melihat ratusan orang mulai terlantar di luar rumah… melihat bangunan-bangunan rusak ringan maupun parah… melihat rumah-rumah rata dengan tanah… melihat orang berlarian tak tentu karena isu-isu ajaib… melihat lalu lintas sudah tidak pakai aturan.. melihat ambulans hilir mudik dengan lengkingan sirenenya..

Hari itu saya akhirnya bisa tetap pulang ke Surabaya.. memenuhi kewajiban saya.. tapi sampai hari ini saya menyesali keputusan saya itu.. beberapa hari meninggalkan Jogja, rasanya seperti mengkhianati keluarga saya.. saya segera kembali dan begitu kaki menginjak Jogja, saya ngga pernah ada di rumah… Imogiri, Pleret, dan sekitarnya… menjadi tempat saya berhari-hari.. berminggu-minggu.. terus dan terus…

Empat tahun yang lalu semua hanya terasa sebagai petaka dan kekacauan luar biasa…

Setahun berikutnya saya hidup dalam trauma… saya tidak pernah mau berada dalam ruangan terkunci… rumah tidak pernah terkunci.. (untuuuung ngga ada calon maling yang ngeh… hehehe..)
Selalu ada pakaian, dompet, dan benda2 berharga yang saya letakkan di tempat paling dekat dengan pintu keluar rumah.. semua benda penting saya kumpulkan dan simpan di bank.

Setahun berikutnya lagi.. saya jadi orang yang penakut… kemunduran luar biasa buat pribadi seperti saya… saya tidak berani naik pesawat, kapal laut.. cuma kereta.. dan itupun tidak di gerbong awal atau akhir..duhhh…

Setahun berikutnya lagi… saya berjuang… menghilangkan semua sisa hal negatif… lambat memang… perlu waktu bertahun-tahun..tapi saya membesarkan hati, lebih baik ber-evolusi tapi konsisten daripada ber-revolusi, tapi cepat menguap…

Hari ini semua masih terasa jelas…tapi dalam bentuk yang berbeda… saya berhasil mengumpulkan kepingan hikmahnya…

Saya jadi tahu rasanya bencana seperti apa… seperti apa rasanya ditonton orang saat sedang kesulitan.. seperti apa rasanya ditipu orang saat sedang terjepit… wahhh… sejak itu saya jauhhhh lebih mudah berempati…

Saya jadi tahu bahwa panggilan jiwa saya bukan materi.. bekerja untuk komunitas dan ada manfaatnya membuat saya lebih hidup dan jauh lebih bahagia..

Saya jadi tahu, sahabat bisa jadi keluarga dan keluarga bisa jadi bukan siapa-siapa…

Saya jadi tahu, berserah diri itu seperti apa…meskipun baru di awal..dan susahnya setengah matiii…

Saya jadi benar-benar paham… bahwa tugas manusia hanya merencanakan hidupnya sebaik-baiknya dan menjalankan keputusan Tuhan terhadap hidupnya juga dengan sebaik-baiknya..

Jogja…. kawah candradimuka buat saya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s