Ariel dan Kita…

Standard

re-post from Facebook, June 15, 2010

Masih tentang Ariel?
Hehe.. iya… tapi yang menjadi bahan pemikiran saya kali ini lebih ke ranah sosiologi..

Kita semua pasti memahami bahwa apa yang seorang selebriti lakukan, terlebih bagi mereka yang sudah menyandang gelar idola dengan fan base yang sudah cukup besar, dapat mempengaruhi banyak hal dalam pembentukan perilaku, baik fansnya secara langsung ataupun masyarakat secara tidak langsung.

Perilaku publik yang terbentuk sebagai reaksi pun beragam.. potensi imitasi, reaksi biasa saja, mengecam muncul deras.. dan yang menarik saya kali ini adalah, bentuk pengecaman publik yang tampak menggelikan, kadang..

Saya memahami, bahwa hal ini tidak bisa dikatakan kecil, efeknya luas dan menjangkau berbagai lapisan. Demikian juga saya dapat memahami bagaimana sebagian publik secara keras memberikan respon dengan alasan ikut bertanggung jawab mengawal moralitas bangsa.

Sebutlah langkah pertama yang diawali oleh FA, seorang pengacara muda, dengan dukungan sebuah LSM, menuntut agar Ariel, Luna, dan siapa pun pelaku dalam video tersebut menjadi tersangka.

Selain itu, komentar pedas ES, pengacara lainnya, yang mengatakan bahwa hal ini sudah masuk ke dalam ranah publik dan sudah sendirinya mereka wajib bertanggung jawab. Dilanjutkan dengan pernyataan yang bernada menyesalkan mengapa Ariel dan Luna meminta agar proses ditunda dengan alasan sakit, sementara di waktu yang lain mereka dapat beraktivitas normal dan terlihat sehat-sehat saja.

Berikutnya pernyataan AMS, Ketua sebuah Komite, yang menyatakan bahwa keduanya wajib meminta maaf secara nasional dan mengundurkan dari menjadi artis dan selebriti.

Dan terakhir yang saya dengar DR, Walikota, yang mengancam akan mencabut Kartu Penduduk Ariel dan saat ini sudah mencekal Ariel, Luna dan Cut Tari untuk tidak berkegiatan di wilayah administratif yang ia kepalai.

Seperti yang telah saya tulis tadi, saya paham… sangaaaaatttt paham mengapa responnya sedemikian, tapi banyak juga yang tidak paham.. adakah yang bisa membantu mencerahkan saya?

Pertanyaan saya, pertama, mengapa harus jadi tersangka? Kalau karena penyebarannya, jelas secara logika mereka juga korban. Atau karena merekam adegan tersebut? Ini yang perlu saya pelajari di UU Pornografi, apakah ada ketentuan yang mengatur secara ketat supaya seseorang tidak membuat dokumentasi pribadi yang bersifat “vulgar”?

Kedua, bagaimana mungkin seseorang yang punya sejarah sama, bisa membuat komentar untuk sesuatu yang juga pernah dilakukannya? Berapa banyak dari kita yang masih ingat bagaimana ia menjalankan fungsinya sebagai pengacara dengan pola yang sama? Menggunakan alasan sakit?

Ketiga, usulan mengundurkan diri sebagai artis dan selebriti buat saya agak menggelikan. Menjadi artis, iya betul, itu bagian dari langkah hidup yang mereka rencanakan, mereka bisa mundur sebagai artis, karena artis adalah profesi.. tapi mundur dari status selebriti?? Mungkinkah?

Keempat, apakah memungkinkan seseorang dicabut status kependudukannya karena kasus seperti ini? wahai ahli hukum dan administrasi negara, berikan penjelasan kepada kami, setidaknya saya, apakah memang harus seperti ini?
Pernyataan ini saya rasa akan berpotensi menimbulkan reaksi lain, misal bagaimana dengan pelaku kriminal lain? Apakah juga akan mengalami hal yang sama?

Sementara saya menunggu jawaban dari pertanyaan-pertanyaan saya tadi, dalam simpang siur komentar dan pemberitaan tentang hal ini, saya memilih untuk belajar saja.. sebanyak-banyaknya…

Bahwa benar moralitas bangsa adalah tanggung jawab kita bersama, tapi kita juga harus menyadari bahwa hal ini tidak serta merta dapat terbentuk dengan kawalan hukum dan Undang-undang.. Nilai-nilai akan lebih berhasil bila dibentuk sejak dini, di rumah, di sekolah, dengan dasar agama, kasih sayang, humanity, dan terinternalisasi bukan dengan perintah tapi teladan..

Bahwa seseorang, terlebih saya, harus banyak menilai diri sendiri dulu sebelum membuat pernyataan-pernyataan yang menilai orang lain… malu ahhh…

Bahwa seseorang yang berkesempatan berpendapat di area publik haruslah belajar untuk arif dan bijaksana, adil dan tanpa dimuati kepentingan-kepentingan yang hanya akan lebih bermanfaat bagi dirinya.

Bahwa anak-anak harus dibuat mengerti, bahwa kesalahan bahkan yang paling besar sekalipun bisa dibuat seorang manusia, tugas pelaku kesalahan adalah meminta maaf dan memperbaiki diri, percayalah.. tugas itu sudah sangat-sangat berat untuk dilakukan.. sedang tugas manusia lainnya adalah tidak memperberat tugas si pembuat kesalahan, terima permintaan maaf, jangan membuat asumsi dan penghakiman yang out of fact, dan memberikan kesempatan seluas-luasnya untuk memperbaiki diri.

Selain belajar juga berharap dan mendoakan agar sahabat-sahabat saya yang berprofesi/aktif di bidang hukum praktis, parlemen, dan pemerintahan adalah orang-orang pilihan yang kualitas pribadinya sudah benar-benar terintegrasi, atau setidaknya terus berusaha mengarah kesana.

Di luar profesi itu, ayo kita sama-sama belajar untuk berpikir lebih positif, dalam dan luaaaassssss.. supaya bisa melihat sesuatu hal dari segi yang lebih kompleks dan tidak mudah membuat sikap dan pernyataan yang dangkal dan sempit.

Kita manusia…. suatu pernah dan mungkin suatu saat juga akan berbuat salah.. pertimbangkan apa jadinya kalau kita yang dihujani hal-hal diluar apa yang kita harus pertanggungjawabkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s