Ariel dan Dia…

Standard

re-post from Facebook, June 8, 2010

Prolog:

Ketawa-ketawa aja saat baca tulisan ini, hidup kadang melewati masa-masa kita menjadi bodoh, lalu selanjutnya jadi punya bahan untuk mentertawakan diri dan kebodohan kita itu😀

Hari ini saya mungkin jadi salah satu orang yang terlambat tahu berita tentang Ariel dan (katanya) 32 cadangan video yang potensial hits dalam beberapa waktu ke depan.. sebenarnya saya sudah ngeh Cut Tari jadi trending topic di twitter tapi sumpe deh, saya tidak terpikir itu (masih) ada hubungannya dengan Ariel.. begitu mendengar info itu dari mbak Arie, saya tercekat, bukan karena Arielnya.. tapi oleh pemikiran, begini ya kalau Tuhan sudah “tidak mau” menutup aib umat-Nya..

Mau tidak mau akhirnya pikiran saya jatuh padanya, seseorang yang pada masa lalu pernah memenuhi ruang hati saya. Saat ini, mungkin lebih tepatnya saya berusaha menempatkan dia di tempat yang lebih rasional dalam benak saya..

Saya akan kembali masa itu, masa dimana kami pernah sangat dekat, setidaknya menurut saya hehe.. Biarpun bukan selebriti, ia memiliki karakter yang mirip… dalam skalanya, ia sangat luar biasa mampu untuk menebar pesona ke arah manapun yang ia mau.. termasuk ketika saat itu ia sedang dekat dengan saya..

Terus terang sejak awal kedekatan kami, sedikit banyak saya sudah tahu “kualitas”nya.. begitu juga dengan sahabat-sahabat saya, terutama yang satu lingkungan dengan kami.. mereka semua memberikan warning.. tidak pernah melarang.. tapi tidak ada satu pun dari mereka yang support 100% langkah saya. Saya jalan terus… dengan kondisi bahwa apa yang kami jalani saat itu bukan apa-apa..

Kenapa saya keukeuh untuk terus dekat sama dia? Ada beberapa alasan…

Pertama. Saya merasa nyaman dengan dia, kedekatan kami memberikan energi luar biasa dalam keseharian saya, karakternya yang berbanding terbalik dengan saya mampu memberikan warna lain dan menjadi trigger saya untuk selalu cheer up.. dibalik segala sesuatu tentang kami yang bagai bumi dan langit, saya menemukan chemistry yang pas dengannya.

Kedua. Saya adalah penganut paham positivisme, *halaaahhh* saya tidak peduli apa kata orang tentang dia, yang penting bagi saya adalah apa yang saya lihat dan rasakan. Selain itu saya percaya tiap orang pada dasarnya adalah baik dan cenderung akan menjadi baik apabila diberi kesempatan.

Ketiga. Bagi saya sangat tidak fair untuk tidak memberikan kesempatan pada seseorang untuk membuktikan kualitas kebaikannya, karena saya pun juga bukan orang yang sempurna, saya pernah banyak berbuat kesalahan, kekeliruan, bahkan di level ekstrem sekali pun.. saya juga punya banyak sejarah kekurangan luar biasa, yang mungkin belum banyak orang tahu. Saya bisa sedikit banyak berubah karena lingkungan saya memberikan kesempatan bagi saya untuk tumbuh dan berubah.

Singkatnya.. kami jalani semua cerita itu… hingga akhirnya saya benar-benar harus berhenti..

Saya berhenti menempatkan dia sebagai penguasa hati saya karena lelah…

Lelah karena cemburu?
Tidak.. saya bukan perempuan dengan karakter pencemburu yang suka jadi detektif, mencari tahu segala sesuatu tentang pasangan saya, baik masa lalunya maupun saat ia dekat dengan saya. Seandainya ponsel, dompet dan barang-barang pribadinya ada di dekat saya pun, saya tidak akan pernah tergoda untuk membuka-buka. Bahkan saat ia memberikan akses ke area pribadinya, saya tidak pernah tergoda membuka apa pun.. apa pun.. karena saya lebih suka tahu sesuatu yang keluar dari lisannya.

Lelah karena tidak jelas?
Tidak.. karena sejak awal saya sudah men-declare… saya memberikan ruang seluas-luasnya buat kami berdua, tanpa tuntutan apa pun, karena saya tahu pasti, saat itu kami berdua tidak dalam kondisi siap membuat komitmen, saya hanya menginginkan hubungan yang berdasar pada keterbukaan dan kejujuran yang akan membuat kami nyaman dengan kondisi masing-masing.

Saya lelah memahami ketidakjelasan dirinya.. selama kami bersama, dia hanya jadi semacam ilusi.. saya kesulitan memahami mana dirinya yang asli dan mana bagian diri yang hendak ia tampilkan untuk memenuhi kebutuhannya menebar pesona kesana kemari..

Saya lelah menghadapi kebohongan-kebohongannya, hal yang teramat bodoh untuk dilakukan untuk hubungan seterbuka yang kami punya…

Saya lelah menemukan kejutan-kejutan rahasia tentang dirinya, yang bahkan sampai saat saya menulis ini pun ia tidak pernah punya kesempatan (mudah-mudahan niatnya ada) untuk menjelaskan tentang dirinya, menjadi apa adanya dan berusaha menjadi lebih baik..

Saya sampai di titik dimana saya harus berusaha (meskipun sangat berat) melepaskan dirinya untuk tidak lagi menjadi bagian hidup saya sebagai pengisi hati… karena saya tidak ingin menjadi bagian dari kepalsuan.. Namun kami masih berteman baik sampai saat ini, dan kasus Ariel ini masih bisa membuat saya sedih karena teringat sepak terjangnya yang lumayan dahsyat..

Sahabat saya pernah bertanya.. “kenapa sih sudah tau orangnya begitu masih aja dibelain?”
Bahkan saat kasus Ariel ini naik daun, dia bilang.. tuuuhhh sama aja tuh, bedanya yg satu artis yg satu bukan.. bongkar aja sekalian…

Wahhh.. saya jawab sekarang ya.. karena selama ini saya selalu diam.. dan dia menyimpulkan saya masih sayang sama dia.. hehe…

Alasan pertama, memang betul, saya masih sayang.. sebagaimana orang dewasa lainnya, yang pasti paham kasih sayang itu bermacam-macam bentuknya.. bagaimana pun dia pernah dekat dengan saya.. menjelekkannya sama dengan menjelekkan diri saya sendiri karena saya pernah memilih untuk dekat dengannya..

Kedua, karena saya tidak ingin jadi orang ajaib yang bisa sebentar bilang sayang dan sesudahnya berteriak dengan sumbang…

Ketiga, karena saya juga pasti punya banyak kesalahan… dengan tidak membongkar keburukannya saya berharap ia juga punya kelembutan hati untuk tidak membongkar keburukan saya..

Terakhir, karena saya bukan penganut paham, saya berpisah karena dia ngga bener… kalau dia juga berpikir begitu, dan semua orang juga berpikir begitu,dunia akan dipenuhi oleh orang-orang ngga bener dong?? heee… Saya lebih suka menyebutnya begini, dia orang baik, saya juga berusaha jadi baik, tapi kualitas kami tidak pas untuk saling melengkapi… amaannnn…. hehehe…

Jadi, sang orang baik… mudah-mudahan yang aku tulis disini bukan dipersepsi sebagai cara menjatuhkanmu ya.. justru ini caraku mengingatkanmu.. ayo lah benar-benar menjadi lebih baik.. sebelum bukan cuma aku yang tau semua cerita di balik layarmu… meskipun kamu ngga punya fans yang akan dikecewakan *atau jangan-jangan punya?* setidaknya, jangan bikin aku tambah sediiihhhhh… karena liat sepak terjangnya Ariel aku jadi inget kamu…:-(

Seperti kalimat penutup pembawa acara Silet yang sempat saya dengar tadi, kurang lebih seperti ini,

Tidak seperti manusia yang harus berupaya sekuat tenaga untuk menjaga segalanya, Tuhan hanya butuh mengedipkan mata untuk menggelincirkan kisah hidup, terutama hanya untuk hal bernama citra..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s