Harta Tak Dibawa Mati

Standard

Sejak kecil, nasihat tentang harta tak dibawa mati sudah sering saya dengar, pasti teman-teman juga. Orang tua, guru-guru, siapa pun yang memberikan nasihat itu pasti lah ingin membentuk pemikiran bahwa kita tak perlu terlalu ngoyo mengumpulkan harta, terlebih dengan cara-cara yang tidak tepat.

Tapi, dalam perjalanan hidup, banyak yang mengubah mindset tersebut. Pada prinsipnya saya masih menyepakati hal itu, nyatanya saya masih pusing tujuh keliling saat mendapati target hidup saya yang meleset dari perkiraan.

Setahun ini adalah periode hidup yang penuh pergolakan, terutama dalam hal ini.. Saya pernah ngetweet, kalau teman-teman masih ingat, bahwa social media berpotensi besar menimbulkan frustrasi. Well, sebenarnya itu terjadi pada saya, sedikit.. *tetep aja ngeles* :p

Harta, buat saya tidak terlalu penting sebetulnya. Karena saya tahu, saya orang yang cenderung hidup bersahaja, saya tidak pernah nyaman dalam pergaulan jetset, saya bukan orang yang gaul di tempat-tempat kelas atas. Lalu mengapa, hingga muncul pergolakan itu?

Karena saya adalah seorang high achiever. Very high malah…

Saat saya melihat A sudah punya X, maka saya bertanya mengapa saya belum?

Saat saya melihat B sudah ke tempat Y, maka kembali saya bertanya, mengapa saya belum?

“Mengapa saya belum” itu muncul berulang-ulang, mempertanyakan, pasti ada yang salah dalam proses hidup saya, saya juga bekerja keras, bahkan mungkin lebih keras dari A dan B, tapi mengapa hasilnya beda? Apa yang salah? Apa yang harus saya benahi supaya saya mencapai hasil yang sama.

Tapi akhir-akhir ini saya seperti tersadar, pernah saya share juga via tweet, bahwa saya lupa, hitungan manusia itu beda dengan ‘hitungan’ Tuhan. Buat saya 1+1=2, tapi tidak untuk Beliau.. bisa jadi hasilnya memang 2, 0, 1000, bahkan minus sejuta!

Nah, sudah sempat tersadar nih, tapi kok ya bebal…masih aja up and down, kemrungsung, sulit menerima.. hingga kemarin, saya dapat broadcast kisah –entah nyata atau tidak, entah benar atau tidak– tentang topik ini, harta tak dibawa mati.

Inti ceritanya, tentang sebuah keluarga yang lama menginginkan untuk memiliki rumah idaman, lalu sang ayah berusaha untuk mewujudkannya, selain bekerja, berhutang sana-sini dan akhirnya harapan mereka terjawab, sebuah rumah megah terbangun. Tragisnya sang ayah meninggal tepat di hari mereka mengadakan peresmian rumah tersebut, meninggalkan hutang dan keluarga itu terpaksa harus menjual kembali rumah mereka untuk melunasi hutang-hutangnya.

Jlebbb…

Termangu saya.. memang sih, saya tak sampai harus berhutang sana-sini karena memang seperti saya bilang, bukan harta tujuan akhir saya. Tapi tetap saja, prosesnya sama, sama-sama terganggu pikiran “mengapa saya belum” tadi.. jangan-jangan suatu saat bisa saja saya melakukan hal yang sama, demi sebuah kebanggaan, berhasil mencapai titik yang sama. Amit-amit…

Saya pikir ulang, bertanya pada diri sendiri, seperti itu kah hidup yang saya mau? Sibuuuukkkk mikir “mengapa saya belum”, sampai lupa apa yang sudah saya usahakan, apa yang sudah saya hasilkan.. oh well, saya harus mereset pikiran ini.

Lalu saya bertanya pada inner circle saya, apakah menurut mereka saya sudah bekerja dengan baik, apakah saya sudah cukup dalam berusaha? Jawaban mereka rata-rata sudah.. bahkan seperti yang saya kira, saya bekerja lebih keras dibanding rata-rata orang yang mereka tahu.

Mengapa saya bertanya?

Karena saya perlu feed back, jangan sampai hal yang seharusnya mencerahkan ini justru jadi bumerang, yang kemudian akan membuat saya suka bersembunyi di balik konsep “ah, saya sudah berusaha kok”, padahal belum cukup.

Dengan jawaban itu, berarti kesimpulannya, memang saya perlu belajar banyak untuk fokus pada usaha saja, dan legowo apa pun hasilnya.. tidak mudah, tapi saya harus, karena saya ingin lebih bisa menikmati hidup dengan lebih sederhana. Sekarang, tiap bangun pagi dan akan tidur, saya sempatkan sejenak berada di tempat favorit saya di rumah, taman belakang, menancapkan pesan khusus dalam benak saya, HASIL KERJA TAK DIBAWA MATI.. nikmati saja perjalanannya. Toh semua, baik harta maupun kebanggaan, pada akhirnya akan ditanggalkan…

Semoga saya bisa..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s