Love Is (never) Blind…

Standard

“Mending blackberry atau iPhone ya Bu?”

“Aku mending beli tiket dimana ya, Jakarta atau disana aja ya?”

“Bu, dinding rumah bagusnya apa ya? kalo fasadnya udah ada aksen merah?”

“Pagerku terlalu mepet deh sama pohonnya, bagusnya diubah kaya apa ya?”

Pertanyaan itu sekali waktu saya jawab dengan “tanya istrimu lahh, dia maunya gimana” dan jawabnya lagi, “percuma bu, jawabnya pasti terserah”

Lalu percakapan itu mengalir, berubah menjadi curhat betapa dia merasa jemu dengan istri yang nuruuuuut saja.. apa-apa terserah, apa-apa manut, “mending punya pembantu aja kalo gitu, ga usah istri, kalau gini ceritanya”, ujarnya lagi. Ouuuchhh…

Saya ngga berminat membahas sikapnya ini salah atau benar, I left it to you.. saya lebih tertarik bicara soal kenapa ini bisa terjadi, harusnya hal-hal ini sudah bisa dibaca saat PDKT ngga sih?

Tapi lalu saya meringis sendiri, mendengar hati kecil saya teriak, “woi, ngaca woi, bukannya lo juga gitu?” Hehehehehe…

Iya sih ya, waktu pdkt, love is really really blind.. segala sinyal-sinyal negatif tertutup, atau lebih tepatnya, sering kali kita tutup-tutupi dengan hal-hal yang ingin kita lihat, dengan mimpi-mimpi semu, dengan keyakinan palsu, love is blind, cinta akan mampu mengatasi segalanya.

Duluuuu banget, saya pernah dekat dengan seorang playboy, saya sudah tahu nih, pacarnya berderet, tapi saya ngga mau mikir itu, yang saya tau he was cool, gayanya asik, kami punya hobi dan ketertarikan yg sama, seru lah pokoknya. Sampai akhirnya dia lenyap begitu saja. Untungnya saat itu, saya ngga terlalu serius memposisikan dia, jadi cukup tersenyum kecut saja, tersadar betapa bodohnya saya saat tahu ada empat orang mantannya di lingkungan tempat kerja saya. Empat meennn, empat!!😀

Lalu, pernah juga saya dekat dengan orang yang sangat posesif. Sejak awal saya sudah tahu lho, orang posesif itu nantinya akan menyulitkan saya. Larangan dan aturannya sering ngga masuk akal. Tapi, saya menipu diri sendiri dengan pikiran, “ah dia gitu karena sayang sama saya”. Saya memilih untuk fokus pada hal-hal yang ingin saya lihat, dia pinter, dia *ehmm* punya bisnis yg bagus, ganteng *uhuk*. Saya pikir it will be great to have a life with him. Nyatanya, semakin hari semakin lelah saya oleh sejuta kekangan dan perdebatan dengannya soal teman yang mana yang boleh akrab dengan saya. Soal aktivitas apa yang boleh dan tidak boleh saya lakukan. Oh noooo… I lost myself..😦

Satu lagi, adalah saat saya punya hubungan dengan orang yang punya konsep salah tentang relasi dalam keluarga. Ia sangat menjunjung tinggi konsep keluarga adalah segalanya. Sejak awal saya menangkap sinyal itu saya tahu, ini akan berpotensi menimbulkan konflik, namun saya redam dengan pikiran nanti lama-lama pasti bisa diubah, nanti kalau sudah hidup bersama pasti bisa dibicarakan, terlebih dia memang prince charming, yang bisa bikin orang bilang ke saya “how lucky you are to have him”, idaman para ibu, mapan, perfecto…tapiiiii, semua buyar, bahkan ia tak sanggup menuruti kata hatinya sendiri untuk bersikap, sikapnya habis tertindas patuhnya yang membabi buta pada keluarga.

Lalu, tentang teman saya tadi, saya tahu dia pacaran sejak SMA, beda kota. Sang istri tipikal yang lempeng, nurut, hidupnya hanya seputar keluarga, anak baik-baik lah.. teman saya pikir, itu lah perempuan yang akan bisa jadi istri yang baik, gampang diatur, ngga macem-macem. Ia lupa, saat mereka beda kota, dirinya berkembang jadi pribadi yang beda, bukan lagi anak daerah yang berpikir sederhana. Kehidupan kota besar, karier bagus, pergaulan luas menjadikan dia puluhan lap jauhnya di depan sang istri. Dan saat nikah, jegeeerrrr, terkaget-kaget lah dia menyadari diajak ngobrol soal simpel pun ngga nyambung, diajak hang out bikin ‘malu’ karena ngga ngerti apa-apa, diajak diskusi jawabannya selalu terserah. Hidupnya setelah menikah terasa berubah membosankan, garing..dan melelahkan..

Dalam kondisi-kondisi tadi, saat kenyataan mengoyak mimpi dan harapan yang kita bangun, masih bisa kah tutup mata dan bilang love is blind?

Saya pikir, opsinya hanya dua, fight or flight… manifestasinya bisa macam-macam.  Saya memilih flight setelah lelah fight, teman saya tadi memilih flight tanpa fight. Orang lain bisa beda lagi..

Belajar dari itu semua, saya yakin, penjajakan itu penting, di situ lah seharusnya kita buang jauh-jauh konsep love is blind. Pacaran jangan cuma diisi sama jalan-jalan, ngemall, hang out, kesana kemari, kalau masih begitu polanya, berteman aja banyak-banyak, enjoy your life. Atau, kalau sekarang nih, jangan cuma ‘nyampah’ mesra-mesraan di socmed. Buka mata dan hati selebar-lebarnya, kenali sinyal-sinyal negatif, maksimalkan kata hati, jangan dibantah. Kenali pribadinya baik-baik, karakter, gaya hidup, prinsip/value yang ia yakini, ada ngga yang kira-kira akan tabrakan sama diri kita. Untuk bisa melakukan itu, pastinya kita harus kenal dulu sama diri kita sendiri.

Duh, banyak ya tugasnya? Trust me, mending begini di awal daripada terlanjur kecemplung di dunia pernikahan terus baru belajar. E tapi, bukan berarti yang udah terlanjur kecemplung dan belum sempat belajar, berarti ngga ada harapan ya. Toh menikah memang proses never ending learning. Fight, jangan buru-buru flight..

Love is never blind, imo, justru dengan banyak melihat, kita akan lebih mampu memahami. Dengan tidak membutakan mata hati, cinta akan lebih mudah menemukan cara mengatasi perbedaan.

Coba yuk.. bareng-bareng sama saya😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s