Kawasan Sunda Kelapa #1

Standard

Hari Minggu kemarin,  saat dilanda kejenuhan tingkat dewa, akhirnya saya memutuskan untuk melakukan sebuah perjalanan spontan. Eh, sebenernya juga ngga spontan-spontan banget sih, karena sebelumnya saya pernah membuat riset kecil-kecilan. Saya bilang spontan, karena saya belum memasukkan rencana perjalanan ini ke agenda, bahkan memutuskan tujuan pun, setelah saya di berada di jalan😀

Awalnya, saya bermaksud untuk tidak mengendarai mobil, kuatir macetnya jalan akan menaikkan level bete saya. Tapi setelah saya pertimbangkan faktor sulitnya kendaraan umum menuju Cibubur, serta level skill menggunakan kendaraan umum yang sudah melorot ke level beginner, saya putuskan untuk bawa mobil saja, parkir di Tamini Square, dan melanjutkan perjalanan dengan TransJakarta.

Sesaat sebelum berangkat, tiba-tiba nongol tweet seorang teman yang merespon tweet omelan kebosanan saya, langsung saya sambar saja dia untuk saya jadikan partner berpetualang hari itu. Perkenalkan @bennywn, newbie juga di Jakarta, dan sepertinya hobi belusukan juga seperti saya🙂

Dari Tamini, saya naik TransJakarta jalur 9 (Pinang Ranti-Pluit), menuju Cawang Uki, lalu transit jalur 10, Cililitan-Tanjung Priuk.  Di bus, komunikasi kami lanjutkan, kami sepakat bertemu di halte Cempaka Mas, lalu akan memilih antara Jakarta Book Fair atau PRJ. Belum lagi sampai di meeting point, tiba-tiba, terpikir gimana kalau lanjut ke Tj. Priuk aja, lalu lanjut naik angkot ke Ancol dan naik TJ jalur Ancol-Kampung Melayu. Perubahan pertama😀

Bertemu di Cempaka Mas, kami melanjutkan perjalanan hingga Terminal Tanjung Priuk, saat turun, saya membatin, “Oooo, kaya gini ya Terminal Tanjung Priuk, berhadapan langsung dengan Stasiun Tanjung Priuk yang tampak luarnya memang sudah lebih cantik” (kapan-kapan kesana lagi ahhh). Niat menuju Ancol lenyap setelah saya menyebutkan, bahwa kami bisa menuju Sunda Kelapa, yang sudah tidak terlalu jauh dari Priuk. Hahayy, berubah lagiiii :p

Kami berdua benar-benar ngga tahu jalur angkot, buta medan, tapi kami terbantu oleh kemampuan saya memahami arah dan membaca peta, sedangkan Benny adalah penyemangat untuk naik angkot saat semangat saya meredup dan memutuskan memilih ngojek, hehehe..

Setelah dapat informasi dari tukang ojek,  kami menuju Sunda Kelapa naik angkot M.15 jurusan Priuk-Kota. Sunda Kelapa berada di jalur balik menuju Priuk lagi sebenarnya. Jadi cukup puas kami keliling, Priuk-Ancol-Kampung Bandan-Kota-Kali Besar, baru turun di Sunda Kelapa. Perlu sekitar 40 menit dan 5000 rupiah saja🙂

Sunda Kelapa – 24 Juni 2012

Kami tiba sekitar pukul 15.00 di Sunda Kelapa, masih cukup terik untuk jalan-jalan, lalu kami duduk-duduk sebentar sambil beli minum. Di tempat yang baru, banyak membuka obrolan dengan orang-orang sangat membantu lho, dari Pak Sugi, pedagang minum, kami jadi tahu, ada sampan yang bisa mengantar berkeliling perairan seputar Kampung Nelayan, transit di Pasar Ikan, Museum Bahari dan Masjid Luar Batang, 3 obyek wisata yang bisa dikunjungi sekaligus di Kawasan Sunda Kelapa.

Sampan? Aman ngga ya? Terus terang kami ragu, baik dari sisi keamanan dan kebersihan.  Tapi demi sebuah petualangan, kami bulatkan tekat *halahhhh*

Tarif menyewa sampan Rp 30.000 untuk rute yang telah saya sebutkan tadi, pemilik perahu bersedia menunggu selama kita transit.

Selanjutnya, semoga foto-foto yang sempat saya ambil sepanjang rute bersampan mampu bercerita dan menyampaikan pesan, betapa saya bersyukur telah memutuskan untuk memilih alternatif ini dan mendapatkan perjalanan yang memperkaya wawasan.

Bapak pemilik sampan (sayang, saya tidak sempat tanya namanya), asli Sulawesi, tinggal di Kampung Nelayan Luar Batang ini, sudah hidup di Jakarta sejak tahun 70-an, karena sudah tidak cukup kuat mencari ikan, lalu mengubah haluan menjadi penarik sampan.

 Saat kami bersampan, kami sempat bertemu dengan sepasang wisatawan asing. Saat menyapa dan mengatakan “have a nice day”, saya menyimpan pertanyaan dalam benak, apa kira-kira yang mereka pikirkan tentang bangsa ini, semoga bukan hal buruk😦

Miris, tapi inilah realita, dua sisi kehidupan yang melengkapi Jakarta.

Saya tak berhasil mencerna, akan seperti apa yang saya rasakan saat beribadah di dalamnya..

Siapa pun, saya yakin akan sepakat, bahwa bercermin dari dua gambar terakhir, kita patut banyak bersyukur atas apa yang kita miliki saat ini.

Di jembatan berwarna merah ini lah, kami memilih untuk mengakhiri perjalanan bersampan, transit untuk menempuh rute lain menuju Museum Bahari atau Masjid Luar Batang.

Cerita tentang Masjid Luar Batang dan Kompleks Museum Bahari saya lanjutkan di blog berikutnya ya😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s