Kepandaian Itu (Bisa) Menghancurkan

Standard

Tadi pagi obrolan iseng saya dengan seorang sahabat berujung pada pembahasan tentang rekan kerjanya yang ajaib, sebut saja namanya A.

A adalah seorang karyawan senior yang terkenal keras, dari sikap sampai gaya bicara, bahkan terkenal sak karep’e dewe alias semaunya. Kalau sudah maunya ya maunya, kalau sudah merintah ya harus dikerjakan, saat itu juga.  Kalau dia ngga suka dengan cara kerja partner kerjanya ya depak, ganti yang baru, setelah sebelumnya dia cela dulu habis-habisan. Kebetulan, si A ini punya kewenangan untuk urusan depak-mendepak itu tadi *enakbangetya* hehehe…

Sahabat saya melanjutkan lagi, “tapi dia memang pinter sih Bu, pinter bangeett”.

Membaca kalimat demi kalimat di BBM yang mendeskripsikan A, saya berulang kali senyum-senyum sambil hmmm..hmmm..

Teman-teman pikir saya sedang membayangkan A?

Bukaaaaannnn…

Saya sedang membayangkan diri saya sendiri. Begitu kah kira-kira yang orang  tuliskan kalau diminta mendeskripsikan tentang saya di lingkungan kerja? Atau mungkin saya sendiri yang akan menulis seperti itu untuk mendeskripsikan diri saya?

Dhyaaaarrrrr…

“Ya gitu itu memang orang kalau pinter” begitu komentar saya yang langsung disambut dengan sangkalan sahabat saya, menyatakan bahwa saya yang juga pinter ngga begitu kok. Eh, btw, maaf ya.. saya menulis ini bukan dalam rangka menunjukkan bahwa saya ini pinter. Nanti teman-teman lihat deh, maksudnya bagaimana.

Saya adalah orang sama, begitu bunyi pengakuan saya. Sama persis dengan si A. Sambil menyebutkan peristiwa dimana saya kesel bin gemes ke Baba karena kelamaan ambil foto dengan Blackberry saya, yang kebetulan juga disaksikan olehnya. Itu adalah salah satu contoh efek negatif jadi orang pinter. Suka ngga sabaran sama orang lain. Padahal saya tahu pasti, kalau saya yang disuruh ambil foto dengan iPhone si Baba bisa jadi akan sama, bukan karena saya bodoh, tapi karena saya tidak terbiasa menggunakannya.

Pembicaraan ini jadi membuat saya ingin mereview pengalaman saya dan ingin berbagi.

Dulu, di jaman saya bekerja, karakter ini tidak terlalu menganggu, karena hampir semua pekerjaan saya tidak banyak berhubungan dengan manusia. Saya banyak bekerja di project yang memungkinkan saya untuk bekerja solo, dan obyek pekerjaan saya didominasi oleh paperwork.

Hal ini baru muncul dan langsung sangat menganggu saat saya memulai usaha. Mau ngga mau saya harus punya karyawan, punya pelanggan, yang semuanya MANUSIA, hohohoho… dengan pelanggan, juga masih tidak terlalu menganggu, karena frekuensi bertemu yang terbatas dan didorong semangat memberikan pelayanan terbaik, saya masih mampu bertahan ‘mengalah’.

Nah, dengan karyawan ini, yang setiap hari ketemu, dan tentunya dengan level pekerjaan mereka, pasti lah yang tersaring juga individu-individu dengan kapasitas kecerdasan (maaf) sesuai level pekerjaannya.  Saya mulai kepentok. Turn over tinggi.

Melihat karyawan keluar masuk silih berganti tadi pertamanya saya masih berpikir susah banget cari orang bisa kerja bener. Tapi setelah 2 tahun terus berlangsung seperti itu, saya mulai berpikir, yang salah ini karyawan-karyawan itu, atau saya? Doeeenngggg…

Mulai lah dialog lebih terbuka dengan Baba, yang selama itu lebih banyak menahan komentarnya, *taukayanyaistrinyayabegituitu* :p

Saya masih ingat satu nasihatnya, kurangi perfeksionisme kamu, belajar sabar, karena ngga mudah jadi orang pinter.

Nyessss…

Nasihat itu dalem, tapi saat saya dengar, tidak terasa terlalu menyudutkan. Pinter juga si Baba, soalnya dia puji saya pinter di situ. Hahahahhaa… *iniyangbelajarpsikologisiapasebenernya* :p

Berangkat dari situ, saya terpicu untuk belajar apa yang dimaksud dengan “belajar sabar jadi orang pinter”. Apakah orang pinter itu harus sabar?

Dan ternyata memang iya, kali ini judulnya “Psikologi Untuk Saya”, dan saya temukan bahwa yang harus saya pelajari segera adalah:

  • menerima kenyataan bahwa tidak semua orang selevel dengan saya dan seandainya ketemu yang selevel pun, tidak semua bergaya yang sama dengan saya, *okey Bubu, kemana semua pelajaranmu tentang individual differences*
  • mengendalikan diri untuk tidak menjadikan perfeksionisme saya itu alat justifikasi untuk mencela karyawan saya, tapi sebaliknya, saya jadikan target, saya bisa disebut berhasil jadi pemimpin kalau yang selama ini saya anggap (maaf) bodoh bisa jadi pinter.

Udah, cuma itu…

Cuma itu? 2 poin itu?

Jangan sedddiiiiihhhh..susahnya cyyyiiiinnnnnn.. *halahh*

Berproses, jatuh bangun, di dalam perjalanannya saya membuat banyak penyesuaian. Diantaranya:

  • Memutuskan untuk tidak dibantu oleh asisten rumah tangga yang menginap. Waktu bertemu yang singkat saya rasa akan membantu saya mengendalikan rasa ‘terganggu’ oleh hasil kerja atau gaya hidupnya yang tidak sesuai dengan saya.
  • Menurunkan standar harapan, saat ini saya fokus untuk puas dengan karyawan yang jujur dan bisa dipercaya, karena saya tidak bisa memiliki keduanya JUJUR  dan PINTAR. Coba, ada yang bisa rekomen ke saya orang dengan kualifikasi kedua hal itu? Pasti ada, tapi jarang banget itu. Pengalaman saya di lapangan bilang, orang jujur biasanya dudul, orang pinter biasanya susah dipercaya.

Semua itu tadi masih harus saya latih sampai sekarang, terus saya latih, karena pertama saya bukan superwoman, yang bisa mengerjakan semua sendiri, saya masih dan akan terus butuh uluran tangan kerjasama karyawan-karyawan saya. Kedua karena saya tidak mau frustrasi, akibat kelelahan-kelelahan mental efek dari sifat saya sendiri. Ketiga karena saya tidak mau diingat sebagai pemimpin yang gagal, gagal mengendalikan diri dan gagal membawa karyawan menjadi individu yang lebih baik. Dan keempat, last but not least, saya tidak mau dikenang sebagai orang yang galak dan menyebalkan :p

So, mommies, yang punya anak pinter, hati-hati ya.. jangan cuma terlena dengan kepandaiannya, cerita saya ini lho bukti nyata bahwa EQ itu mutlak perlu, bukan hanya IQ. Yang capek bukan cuma orang lain, yang bersangkutan pun juga. Masih ada resiko lain juga yang harus seorang ibu siapkan saat memiliki anak dengan kecerdasan di atas rata-rata, baca tulisan saya tentang ilmu vs iman disini.

Siapkan anak-anak, untuk jadi manusia yang utuh, integrated, seimbang satu aspek dengan aspek yang lain. Saya percaya kita semua bisa.

Seperti Baba yang selalu percaya bahwa saya bisa berubah.

One response »

  1. Pingback: Ilmu vs Iman « Kata dan Cerita Hati…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s