Ilmu vs Iman

Standard

Prolog:

Ini adalah sebuah tulisan lama, menjelang 1 Syawal 1429H, saya upload lagi sebagai bahan refleksi dan melengkapi tulisan saya sebelum ini tentang kepandaian.

Hari terakhir Ramadhan…  setengah hari tadi saya menghabiskan waktu di luar rumah.

Di antara macetnya Jogja menyambut pemudik, di antara sibuknya persiapan malam takbiran, di antara atmosfer khas menjelang Lebaran, hati saya tak berhenti takjub..  merasakan keajaiban luar biasa yang saya dapatkan di akhir Ramadhan tahun ini.

Di tulisan saya sebelumnya.. saya curhat tentang kegalauan hati mengenai ke-Islaman saya.

Saya tunduk mengakui saya harus kembali titik nol untuk meraih kasih sayang Allah..

Bangunan ke-Islaman yang seharusnya sudah kokoh karena terbangun sejak 30 tahun yang lalu, sejak saya lahir ke dunia, sepertinya harus dibangun ulang dari sangat…sangat.. awal.. kembali ke pondasi.

Ramadhan tahun ini, ujian terbesar dan terberat sepanjang hidup harus saya alami.. bukan kesulitan, musibah, sakit atau hal-hal duniawi lainnya. Kali ini saya harus berjuang mempertahankan diri untuk tidak sekedar berstatus Islam, namun tidak mampu meyakininya.

Iman saya runtuh… dan hal ini sudah muncul gejalanya sejak beberapa tahun terakhir.. saat saya tidak mampu mengendalikan logika berpikir. Siapa sangka, logika berpikir saya berubah menjadi nafsu besar yang memaksa dan menantang akal untuk terus dan terus mempertanyakan setiap takdir Allah. Hingga sebuah pertengkaran hebat dengan suami, yang kata-katanya menyentak saya..  ”Ya sudah.. kalau begitu cara berpikir kamu, murtad aja kamu.. jadi free thinker aja..!!”

Ya Allah… saya kaget, tidak hanya dengan kata-katanya, tapi kaget menyadari ternyata sudah sebegitu parahnya kondisi keimanan saya… singkat cerita, semua keterkejutan, kerapuhan, ketakutan saya ada di tulisan saya sebelumnya.

Lalu.. keajaiban apa yang saya dapatkan?

Subhanallah… saya tidak berani ngaku-ngaku sudah dapat hidayah..  *siapaaa saya??*

Yang saya rasakan, pertanyaan saya dalam curhat itu dijawab dengan waktu singkat dan dengan cara yang tidak saya duga.

Ada dua kejadian yang cukup ajaib menurut saya.. *mungkin tidak untuk teman-teman yang sudah sangat dekat dengan Tuhan..hehehe..

Saya pergi, di mobil biasanya saya SELALU denger i-Radio, hampir tidak pernah tidak… hari itu, saya tidak ingin denger dan saya ganti asal-asalan saja.. ketemu Geronimo, pas di acara Sasisoma (Sana Sini Soal Agama) dan kebetulan ustadznya teman kuliah saya sendiri. Batin saya bilang, mumpung kenal, saya nanya aja..

Dan bertanyalah saya, ”Saya dapat input, agama adalah dogma, yakini saja.. apakah agama tidak bisa dilogika? lalu buat apa akal dan pikiran kita?”

Jawabannya sungguh mengena.. beliau bilang bahwa tidak ada hal yang tidak bisa dilogika dalam hal beragama.. yang kita harus lakukan adalah memperbesar kesabaran dan kesantunan berpikir dan berlogika, untuk sabar dan mengakui masih banyak hal-hal yang diluar jangkauan logika kita sebagai manusia..

Ya Allah, saya seperti ditampar.. saya malu dengan kesombongan saya…

Sesederhana itu konsepnya.. tapi nafsu, membuat saya buta bahwa banyak hal yang masih jauh di luar jangkauan saya.

Kejadian kedua terjadi esok paginya, dini hari saat sahur, sesudah hidangan siap di meja makan, bukannya mulai makan, saya malah mengambil remote TV dan nonton.. kok ya paaaaaas banget, acara Tafsir Al Mishbah di Metro TV, Ust. Quraish Shihab membahas beda antara ilmu dan iman.

Saya tuliskan disini… beberapa yang masih saya ingat.. CMIIW..

Perbedaan Ilmu dan Iman

ILMU

IMAN

Tidak bisa menciptakan iman. Bisa membantu memahami ilmu.
Penghias diri. Penghias hati.
Mempercepat manusia dalam mencapai tujuan. Membantu manusia dalam menentukan arah dan tujuan hidup.
Sifatnya seperti air telaga. Tampak tenang tapi bisa mengeruhkan hati. Sifatnya seperti air bah. Naik turun, tapi bisa menjernihkan.

Pencerahan yang saya dapat dari Pak Ustadz sahabat saya, langsung dilengkapi dengan penjelasan konkret dari Pak Quraish Shihab.

Saya dipermudah untuk menyadari kebodohan saya… saya dipermudah untuk memahami kesalahan saya.. saya dipermudah untuk mencari jalan dalam memperbaiki kesalahan saya..

Sekali lagi,  Subhanallah…

Hikmahnya.. selain saya merasa lebih tenang.. saya pun jadi sangat memahami, pesan orang-orang tua dulu, ”yen wis pinter, ojo keblinger..”,  saya juga jadi paham dinamika mengapa banyak ilmuwan yang akhirnya jadi atheist.

Hari ini, di akhir Ramadhan, saya bahagia.. karena diberi kesempatan merasakan kebesaran Allah. Kalau iklan Pertamina bilang, ”mulai dari nol lagi ya…”, saya pun demikian… doakan saya teman-teman..

One response »

  1. Pingback: Kepandaian Itu (Bisa) Menghancurkan « Kata dan Cerita Hati…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s