Sahabat, Untuk Jiwa Yang Lelah

Standard

Saya yakin teman-teman semua punya sahabat, entah satu, dua atau banyak. Saya yakin pula banyak di antara kita yang sebegitu membutuhkan sahabat sebagai supporting system kita, terutama untuk curhat, ya nggaaakk?

Hari ini jadi pengen cerita tentang sahabat. Tentang ‘sulit’nya orang bersahabat saat sudah menikah. Bagi teman-teman yang sudah menikah atau sahabatnya yang sudah menikah, saya tanya deh, pernah ngga merasa “duhh, setelah nikah, sahabatku jadi susah deh diajak ketemu”, atau saat menjelang pernikahan sahabat merasa “duh, jangan-jangan abis ini udah ga peduli lagi sama aku”. Nah itu baru sebagian di antaranya.. belum lagi kalau ternyata sahabat kita itu beda jenis kelamin. Banyak orang bilang, “udah married masih aja gandeng sama  orang lain, sesudah menikah yang jadi sahabat itu harusnya suami/istri kita”.

Yappp, itu idealnya. Terus gimana nasib yang ngga ideal?

Saya mendengar cerita seorang teman hari ini, cerita tentang betapa rindunya dia untuk menghabiskan waktu dengan sahabatnya seperti dulu, jaman sebelum menikah.

Rindu? Ya, setelah menikah, dia merasa ada beban dari sekitarnya untuk menjaga jarak dengan si sahabat supaya terhindar dari omongan orang dan juga untuk menjaga perasaan pasangannya.

Saya tanya, kenapa sampai segitunya? Dia bilang, di depan sahabat, saya merasa lebih hidup. Saya bisa ketawa ngakak karena becandaan kami nyambung. Bisa cerita apa aja tanpa sensor tanpa harus melihat raut muka berubah jengah, pasangan saya terlalu ‘baik-baik’. Bisa diskusi dan arguing tentang satu topik. Di rumah, jangankan arguing, pasangan saya terlalu penurut, apa kata saya, dia iyakan. Dulu saya pilih dia karena baik-baik, nggak neko-nekonya dan nurutnya itu, ternyata, justru itu sumber kelelahan saya. Saya seperti sedang memimpin sebuah organisasi tanpa partner, semua saya pikir sendiri. Juga seperti sedang berhadapan dengan katak dalam tempurung, yang ngga tahu apa-apa, bahwa di luar dinding rumah, semua terus berubah. Kalau boleh jujur, ekstremnya, saya bosan.

Dddhhuuuaaarrrr…

Sampai disini, saya masih yakin, akan ada banyak pendapat bermunculan dari siapa pun, termasuk saya :p

Bisa jadi ada yang bilang, kalau sudah menikah, udah tutup mata, jangan membanding-bandingkan dengan orang lain.

Atau, lha kenapa dulu ngga kawin sama sahabatnya aja?

Atau, seperti di awal tadi, kalau sudah menikah harusnya suami ya sahabat istri.. istri jadi sahabat suami..

Dan pasti masih banyaaaaaakkkk lagi.

Ccccciiiiittttt…stop. Saya harus ngerem pikiran saya, cerna dulu Bubu…

Sungguh kah, harus tutup mata?

Kembali ke curhat tadi, kalau tutup mata jangan-jangan malah nanti kita ikutan jadi katak dalam tempurung. Merasa udah baik-baik semua, ngga punya data pembanding, ngga bisa mengukur kita ada di titik mana. Positif, nol, atau malah negatif?

Gimana kalau tetap boleh membandingkan dengan semangat mengumpulkan referensi? Sebagai input, yang akan kita olah sebagai bahan introspeksi diri dan pasangan.

Kenapa dulu ngga kawin sama sahabat aja?

Haha.. ini lah misteri.. akan ada banyak versi jawaban, kalau misal kita ditanya kenapa kok akhirnya kita ngga menikah dengan sahabat yang udah jelas-jelas tau dan ngerti kita apa adanya. Silakan teman-teman jawab sendiri J

Pasangan jadi sahabat?

Wahhhh, ini yang saya bilang ideal tadi. Kalau istri/suami sudah bisa jadi sahabat kita, ya sudah, end of story, saya ngga perlu membuat tulisan tentang ini.

Saya coba melihatnya begini, saat menikah, seorang laki-laki akan menyandang dan menjalankan peran baru yaitu sebagai suami, dan sebaliknya. Pada saatnya nanti, peran bertambah satu lagi, menjadi ayah/ibu. Sudah dua peran, padahal, masih banyak peran yang mungkin harus dijalankan. Sebagai anak, kakak/adik, paman/bibi, teman, tetangga, pimpinan, karyawan, pemilik usaha, dll dll… Di antara sekian banyak peran itu, pasti lah ada satu peran yang akan paling dominan, tergantung pada situasi dan kondisi yang sedang dihadapi masing-masing. Orang yang orang tuanya sedang sakit, peran sebagai anak bisa mendominasi. Yang adiknya sedang kesulitan, peran sebagai kakak mendominasi. Yang sedang fokus meniti karier, peran karyawan mendominasi. Yang sedang kolaps usahanya, peran pebisnis yang mendominasi.

Dominasi-dominasi itu yang kadang membuat lupa, bahwa ada peran-peran lain yang juga harus dijalankan. Termasuk menjadi sahabat bagi pasangannya. Sulit tapi rasanya kalau dalam kondisi-kondisi yang saya sebutkan tadi. Bayangkan misalnya, seorang perempuan yang sedang menjadi ibu seorang bayi, bisa jadi akan tidak sempat banyak mendengar curhat suaminya. Seperti yang biasa sahabat lakukan.

Eh, saya jadi ingat cerita saya sendiri. Pernah saya curhat soal bisnis ke Baba, tentang sepinya order saat baru pertama jalan, padahal saya harus bayar karyawan. Bukannya kalimat supportif yg saya dapet, tapi teori-teori bisnis yg dia pahami betul, tapi tidak saya mengerti sama sekali. Saya makin kecil hati. Lalu curhat lah saya ke alm. Adjie, sahabat saya, dia cuma bilang, “Everything is gonna be okey, Ren. Aku yakin kamu bisa”. Semakin dekat tanggal gajian, tapi duit belum ngumpul juga, Adjie order box ke saya lebih awal dari biasanya. Biasa aja sikapnya, seperti saat order biasa, tapi saya tahu, itu lah caranya menolong saya. Cara seseorang menolong sahabatnya…

Ini bukan membandingkan, tapi memberi gambaran, pasangan yang notabene orang yang harusnya terdekat itu manusia juga, yang juga bisa lupa, peran mana yang harus dia jalankan saat menghadapi satu kondisi dengan pasangannya. Baba bisa jadi saat itu rancu dg perannya sebagai suami yang harus menanggung biaya kalau-kalau bisnis istrinya gagal hahahha.. toh akhirnyia sendiri juga nyadar, dan bisa bilang saat saya kehilangan Adjie, katanya “syukuri apa yang sudah kamu lewati sama dia, kalo ngga ada Adjie bisa-bisa Giftbox udah tutup, masukan dari temen deket itu kadang memang lebih mudah diterima”

Kembali ke sahabat versus pasangan.

Pada akhirnya, semua kembali ke niat dan usaha untuk berusaha menempatkan segala hal pada tempatnya. Sahabat adalah sahabat, tidak lebih. Berani menyebut diri sebagai sahabat berarti berani mengambil tanggung jawab untuk tidak melewati batas.

Pasangan juga harus berbesar hati menerima bahwa ada sisi-sisi yang memang lebih pas ditempati oleh seorang sahabat, seseorang yang berada dalam posisi lebih netral, minus kepentingan-kepentingan, samil berbesar hati berkaca untuk mengupgrade skill menjalankan banyak peran, termasuk menjadi sahabat.

Kalau sudah sampai titik itu, seruwet apa pun yang sedang kita hadapi, bisa lah kita bilang, indahnya punya sahabat, oase jiwa yang lelah…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s