Tentang Peristiwa “Kekerasan” Itu…

Standard

BBM dari seorang teman menanyakan kabar menghebohkan di sekolah Arya kemarin sore benar-benar membuat hati saya hancur.  Seminggu kemarin seperti yang teman-teman ketahui, kasus bullying sedang menjadi bahasan di banyak media, bahkan Kompas sempat mengangkatnya sebagai headline. Dan baruuuuuu juga, saya membahas tentang hal itu dengan Arya.

Bullying adalah salah satu concern besar saya dalam proses menemani Arya belajar di sekolah. Saya mungkin bukan jenis ibu yang suka masuk, ketemu ibu-ibu pejemput lain, ngobrol-ngobrol, tapi saya betah berlama-lama di tempat parkir, di pinggir lapangan, di tepi tempat bermain, mengamati siapa-siapa yang saya lihat, baik murid, guru, orang tua, para pengasuh, sopir, dll dsb. 

Untuk apa? Karena saya ingin kenal betul, di lingkungan seperti apa anak saya tumbuh, menghabiskan waktu berjam-jam di tempat yang tidak bisa saya pantau sepenuhnya. Saya amati semua, tidak hanya bagaimana anak berinteraksi, tapi juga bagaimana guru mengawasi, bagaimana para orangtua/pengasuh memperlakukan anak-anaknya.. karena semua itu berkaitan satu sama lain, semua itu akan menentukan lingkungan seperti apa yang akan terbentuk.

Selama setahun, semenjak kepindahan Arya di sekolah ini, saya belum pernah melihat satu kejadian ekstrem yang melibatkan kekerasan, maka dari itu,ketika saya mendengar kasus ini, membaca berita di media, menonton tayangan berita di televisi, saya segera merasa sangat perlu untuk mendapatkan informasi seobyektif mungkin. Syukur Alhamdulillah, hari ini seorang walimurid yang menjadi perwakilan di Komite Sekolah dan wali kelasnya bersedia memberikan keterangan detil. Hilang kekhawatiran saya, karena setelah mendengar informasi tersebut saya merasa pihak sekolah tidak menganggap remeh hal ini, hal yang saya rasa paling penting bagi saya sebagai orang tua.

Karena pihak berwenang pun belum selesai memproses peristiwa ini, saya tidak akan menuliskan detil-detil yang saya dengar, karena tidak ingin menulis berdasarkan asumsi. Hanya ingin berbagi sedikit saja, hal-hal yang saya yakini sebagai fakta.

  1. Tidak benar pihak sekolah menolak memberikan informasi kepada media, karena menurut informasi yang saya terima tadi, semenjak peristiwa ini merebak ke media, pihak sekolah menerima media untuk memberikan keterangan. Hanya saja, setelah media tidak memuat berita sesuai dengan hasil wawancara, manambah informasi-informasi yang dibumbui ini itu, pihak sekolah merasa perlu menahan diri supaya tidak memperkeruh suasana.
  2. Mengapa pihak sekolah merasa perlu untuk tidak mengijinkan media mengambil gambar di dalam lingkungan sekolah, karena hendak melindungi kepentingan besar, anak-anak yang sedang menjalani proses belajar mengajar. Saya sepenuhnya mendukung langkah ini untuk menjaga agar anak-anak tidak terlalu terkspos media dalam suasana yang cenderung kurang baik dan agar tidak terganggu konsentrasinya.
  3. Mengapa sekolah tidak lagi memberikan pernyataan lebih lanjut mengenai peristiwa ini. Karena memberikan kesempatan agar pihak berwenang melanjutkan proses penyidikan, saat ini baru pihak pelapor yang dimintai keterangan, sedangkan terlapor baru dijadwalkan pada Kamis mendatang.
  4. Informasi yang menyebutkan bahwa pihak sekolah tidak menangani kasus ini dengan baik, tidak sepenuhnya benar. Berdasarkan runtutan informasi yang saya terima tadi, saya hargai usaha sekolah untuk menangani si anak pasca kejadian, menemui keluarga pelapor, melakukan upaya mediasi meskipun belum maksimal hasilnya karena pihak keluarga pelapor masih belum berkenan menerima upaya-upaya tersebut.
  5. Informasi yang menyatakan bahwa terlapor adalah anak orang kaya, pejabat dan disegani oleh pihak sekolah itu sungguh menyesatkan, pihak sekolah menyatakan bahwa terlapor adalah anak yang santun dan tidak pernah melakukan tindak kekerasan. Begitu juga halnya dengan pelapor. Sekolah merasa kedua anak tersebut adalah anak-anak mereka, yang perlu dilindungi dari segala trauma. Saya sepakat dengan sekolah, bahwa dalam hal ini, setelah kasus bergulir di ranah hukum, kedua anak tersebut berpotensi menjadi “korban”.

Demikian yang saya tangkap dari penjelasan yang saya terima tadi. Secara pribadi saya tidak mengenal banyak kedua anak tersebut, dengan keluarganya apa lagi. Informasi juga baru sepihak yang termuat di media. Proses masih berjalan hingga saya merasa alangkah baiknya semua pihak menahan diri untuk tidak membuat asumsi, apalagi kesimpulan, apakah ini benar kasus bullying atau memang ‘sekedar’ pertengkaran biasa.

Pelajaran penting yang saya dapat dari peristiwa ini adalah:

  1. Seperti yg saya nyatakan tadi siang, saya memahami betul, teman-teman yang sudah menjadi orang tua pun pasti tahu persis bagaimana “ngga terima”nya kita melihat buah hati terluka, tapi kita juga harus belajar untuk tidak membuat pernyataan apapun di media saat sedang dikuasai emosi, karena apa yang kita sampaikan saat emosi jelas sudah banyak berkurang nilai obyektivitasnya.
  2. Kenali lebih dekat lingkungan anak-anak, sehingga pada saat berada dalam masalah, kita masih bisa berpikir seobyektif mungkin, berdasarkan data yang kita miliki, untuk mencerna dan mencermati segala kemungkinan penyebab timbulnya masalah.
  3. Peluk erat anak-anak, terus ajarkan mereka untuk menyayangi teman-teman, karena merekalah saudara anak-anak kita di sekolah. Namun juga tidak lupa mengajarkan bahwa selalu akan ada kemungkinan ada anak-anak di sekolah yang melakukan kekerasan.
  4. Walaupun secara pribadi saya pun pernah kecewa terhadap sistem di sekolah Arya. Tapi tidak adil rasanya kalau setiap hal yang terjadi di sekolah serta merta menjadi tanggung jawab sekolah. Orang tua juga harus bersedia berbesar hati melakukan introspeksi.

Semoga apa yang saya share tidak menjadikan banyak pihak berpikir bahwa saya sedang berdiri memihak satu sisi. Tidak sama sekali. Saya menuliskan ini, pertama, karena saya menyayangi kedua anak, teman Arya yang saat ini sedang ‘bermasalah’, mereka berdua berhak dilindungi, semoga mereka berdua bisa melewati hal ini dengan baik, orang tuanya bisa mendampingi dengan baik pula, agar tidak timbul trauma berkepanjangan. Dan kedua, karena saya ingin kita semua belajar, mengambil hikmah bersama-sama.

2 responses »

    • Tapi nyatanya ngga selalu bisa ya mbak? jadi tugas kita mempersiapkan anak utk bisa berperilaku baik dan pada tampatnya, ada atau ngga ada orang tuanya. Bukan tugas mudah, tapi insy kita bisa.. amiiinnn..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s