12 Ramadhan 1432H

Standard

Ramadhan memasuki pertengahannya, saya baru sempat menulis lagi setelah tersela 10 hari penuh kesibukan yang semakin menggila.

Kali ini saya mau cerita soal betapa berbedanya Ramadhan saya kali ini. Kalau tentang setting tempat pasti udah jelas berbeda ya.. Dari Jogja yang begitu bersahabat ke Jakarta yang begitu menantang. Tapi bukan itu kok, ini soal Kakak. Tahun ini saya merasa Kakak sudah besar ya? Banyak perkembangan yang sering membuat saya ternganga sejenak sebelum merespon pernyataannya.

Kemarin, sepulang sekolah, kami mampir sebentar ke supermarket yang bersebelahan dengan resto. Kakak melihat beberapa orang ibu-ibu berkerudung yang sedang makan siang. Lalu berkomentar, “Di Jakarta kok banyak yang ngga puasa ya?”. Dengan semangat mengajarkan budaya berprasangka baik, saya spontan menjawab, “Lhoo, kalau perempuan kan..”, belum selesai saya bicara, kakak menyahut, “Iyaaa, haid ngga boleh puasa kan? Tapi harusnya kan bisa beli terus dibawa pulang aja. Kalau yang pake jilbab aja makan di restoran, ngapain orang-orang lain harus menghormati bulan Ramadhan.”

Deg.
Saya speechless, itu dalem lho Kak, bukan bahasan mudah buat saya. Akhirnya saya berkomentar, iya ya, harusnya kita belajar untuk bisa bersikap dan berperilaku lebih baik dulu, tanpa diminta orang juga akan hormat dengan sendirinya.

Duh, saya ngga yakin, jawaban itu sudah cukup tepat. Dalam perjalanan saya tadi, dalam macet, sendirian, saya memikirkan ucapan kakak. Isinya, respon saya, dan juga masih tentang keterkejutan saya betapa Kakak cepat sekali besar.

Ini bukan yang pertama sebenarnya, sebelumnya juga pernah beberapa kali saya melihat Kakak mengkritisi sesuatu. Tentang pak Imigrasi yang masih berseragam dan marah-marah di minimarket, tentang pak Polisi yang membiarkan mobil menerobos lampu merah tapi menahan motor, tentang jam latihan yang terpotong setengah jam, tentang hal-hal yang menurutnya tidak pada tempatnya.

Mendadak saya kuatir, jangan-jangan banyak sikap dan perilaku saya yang juga dia amati dan menurutnya itu kurang pas tapi tidak dikomentari karena saya ibunya. Walahhh..

Pulang sekolah nanti saya mau bicara lagi sama Kakak ah, special request, ia boleh mengkritik dan mengingatkan saya kalau ada yang salah menurutnya. Saya juga harus lebih banyak bersiap untuk mengajarkan tentang bersikap kritis yang baik, bukan hanya bisa mengkritisi tapi mampu belajar dan berlatih memberikan solusi.

Ahhhh, kakak bukan lagi anak-anak yang melihat segala sesuatu sekilas-sekilas dan ‘begitu saja’, ia sudah bisa jadi partner saya berdiskusi dan berdebat tentang banyak hal..😉

Ayo Bubu, belajar!

Posted with WordPress for BlackBerry.

One response »

  1. alhamdulillah.., beruntungnya kamu diberi oleh Allah SWT, seorang titipan seperti kakak. anak2 adalah bekal kita yang paling berharga saat memenuhi paggilanNya kelak.
    -lia-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s