Sudahkah Penuhi Hak Anak?

Standard

Saya sudah di tempat tidur ketika akhirnya memutuskan untuk menulis saja. Sudah sangat butuh tidur sebenarnya, karena besok pagi-pagi sekali harus mengantar Arya ujian kenaikan tingkat Taekwondo.  Sambil-sambil mengingat-ingat besok pagi harus apa, menyiapkan apa,  selintas terpikir, duhh, ternyata komitmen saya untuk mendukung anak berprestasi benar-benar butuh pengorbanan ya. Bukan cuma dalam hal materi, tapi juga waktu, tenaga, kepentingan-kepentingan pribadi harus ditata sedemikian rupa supaya semua bisa berjalan lancar.

Dari pikiran itu, eh lha kok malah keterusan, memang terkait atau saya yang sibuk mengaitkan, saya jadi teringat apa yang saya tulis tadi pagi menyambut peringatan Hari Anak Nasional,  semoga seluruh anak Indonesia terpenuhi haknya.

Saya adalah orang yang berkonsep, fase anak adalah fase penting dalam rentang kehidupan manusia, bukan berarti fase lain tak penting,  semua fase punya tantangannya masing-masing. Hanya saja, sebagai fase saat pondasi kehidupannya kita letakkan, saya merasa tidak boleh gambling dengan bersikap let it be.. mengalir saja.. Saya harus punya konsep, punya platform, punya rencana, nah pelaksanaannya baru lah boleh mengalir saja, berkembang dan beradaptasi dengan situasi yang ada.

Itu lah kenapa, saya sangat peduli dengan anak-anak, berusaha betul memahami hak mereka dan memenuhinya semampu saya.  Tidak cuma untuk Arya, tapi sebisa-bisanya untuk orang di sekitar saya. Nah, di momen ini sepertinya waktunya tepat untuk berbagi. Sudahkah kita berjuang memenuhi hak anak-anak kita?

Yuk, kenali dulu apa itu hak anak. Hak Anak, secara singkat meliputi hak untuk mendapatkan:

  1. Kesempatan bermain
  2. Pendidikan
  3. Perlindungan
  4. Nama / Identitas
  5. Status kebangsaan
  6. Makanan
  7. Akses kesehatan
  8. Rekreasi
  9. Kesamaan
  10. Kesempatan peran dalam pembangunan
Detilnya bisa dibaca-baca di materi presentasi yang saya temukan di internet, teman-teman bisa ikut mendownload disini, atau browsing aja, banyak kok..

Kalau teman-teman ingin mendapatkan versi menarik tentang pengenalan hak anak yang dipublish oleh Unicef, bisa klik disini.

Hanya 10 ya.. dan kalau dibaca, banyak dari kita yang pasti akan merespon dengan “oohh, sudah saya penuhi semua itu”.

Benarkah?

Syukur Alhamdulilah kalau sudah.. namun dengan semangat belajar bersama-sama, saya ajak teman-teman untuk mengingat apakah pernah kita bilang ke anak, “Hayo, kamu kakak, kok ngga mau ngalah sama adiknya?” atau “Jadi anak sulung harus bisa ngasih contoh ke adik-adiknya”

Salah? Tidak. Tidak salah.

Saya hanya tidak terlalu sependapat apabila beban berat diletakkan ke seorang kakak, bukankah setiap anak berhak mendapatkan kesamaan? Dan kesamaan perlakuan dari orang tua itu penting. Baik untuk sang kakak maupun sang adik. Sang kakak berlatih memberi teladan dan menyayangi yang lebih muda, sang adik belajar menghormati yang lebih tua. Bukankah itu lebih menyenangkan?

Itu belum termasuk kalau sang kakak juga diwajibkan menjaga adik, karena orangtua berpikir sudah menjadi tanggung jawab si kakak untuk menjaga adiknya. Kakak dimarah-marahi kalau adiknya kenapa-kenapa.

Whatt?

Tidakkkkk.. orang tua wajib mengajarkan kasih sayang, saling menjaga sesama saudara, tapi bukan melimpahkan kewajiban untuk menjaga adik. Si kakak juga perlu waktu untuk dirinya sendiri lho.. belum saatnya terbebani menggantikan tugas orang tua untuk menjaga anak-anaknya. Kalau orangtua harus bekerja atau beraktivitas lain sehingga tidak punya banyak kesempatan, jangan bebankan itu pada anak. Cari sosok lain yang bisa menjalankan fungsi itu.

Pernah juga kah kita mewajibkan anak-anak ikut les pelajaran tambahan di sekolah, kegiatan ini itu sampai anak ngos-ngosan tanpa berpikir apakah sang anak memang menginginkannya, tanpa sempat bertanya apakah sang anak bahagia?

Sudah jugakah kita fasilitasi mereka untuk menyalurkan bakat dan menemukan jalan untuk berprestasi? Jangan menyerah dengan segala keterbatasan, dengan menggali sisi kreatif, orangtua bisa menemukan cara-cara sederhana untuk itu.

Sudahkah kita menyediakan waktu untuk mendengar suara hati anak-anak kita? berapa banyak waktu yang kita punya untuk bersama-sama? benar-benar bersama-sama, bukan sekedar jalan bareng ke mall di akhir minggu, atau makan malam keluarga tapi semua sibuk dengan gadgetnya?😀

Masihkah kita menargetkan ranking, memaksa anak memamerkan kebolehan padahal sang anak tidak nyaman, mencela saat anak kurang berprestasi, menghina anak, membanding-bandingkan, memanggil dengan sebutan konyol, melarang anak bermain, tidak mencermati pergaulan anak, apakah anak mengalami bullying di lingkungannya. Banyak hal yang kadang terlewat.. terlupa.. termasuk saya..

Tugas orangtua memang tidak mudah, tapi bukan tidak mungkin untuk dioptimalkan. Berani menjadi orangtua berarti berani untuk never ending learning. Jangan kuatir, banyak akses kok ke hal-hal yang dapat memperkaya wawasan, tinggal kita, mau atau tidak. Hehe..

Once again, ayo perjuangkan hak anak, anak yang terpenuhi haknya akan tumbuh berkembang maksimal. Dan semakin banyak harapan yang bisa kita gantungkan kepada mereka untuk membuat kehidupan yang lebih baik di masa yang akan datang. Mulai dari keluarga, beranjak ke lingkungan sekitar, beranjak lagi meluas dan terus meluas, semampu kita.

Semoga anak Indonesia semakin sejahtera…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s