Pak Polisi yang Budiman

Standard

Pak Polisi yang budiman…

Ini hanyalah surat pendek dari seorang ibu..

Tahukah Bapak, bahwa profesimu itu adalah salah satu profesi favorit anak-anak.. ah, Bapak pasti tahu, karena di setiap karnaval peringatan Agustusan, Bapak pasti melihat berapa banyak anak-anak, terutama anak laki-laki yang ingin memakai kostummu, lalu berjalan dengan gagah dan senyum mengembang. Sebagai ibu dari seorang anak laki-laki, saya pun pernah merasakan hal yang sama.

Tapi tahukah Bapak, sambil menemaninya memilih kostum itu, saya tidak berhenti berpikir apa jadinya kalau si kakak benar-benar memilih Polisi sebagai profesinya.  Saya tak yakin saya akan bisa menerima..  Namun karena tak mau mematikan harapan di usianya yang baru 5 tahun, saya berkata, “Kakak harus jadi orang baik dulu sebelum jadi Polisi, karena tugas Polisi itu melindungi rakyat, masa bisa melindungi rakyat kalau orangnya ngga baik?”

Itu 4 tahun lalu…

Sekarang, saat si kakak beranjak semakin besar, sudah mulai bisa menonton serial detektif dengan pendampingan. Makin jadi lah kekagumannya pada profesi Polisi. Terlebih tokoh-tokoh yang ia lihat itu tokoh-tokoh dengan karakter jujur, pekerja keras, dan terintegrasi. Lihat saja Horatio Caine di CSI:Miami, Mac Taylor di CSI:New York, dua sosok polisi idola kakak.

Ahhh, tahukah Bapak, pergi kemana-kemana, sampai berangkat tidur pun si kakak masih menggenggam pistol mainannya. Menemaninya menyaksikan kiprah kedua polisi itu, sambil mendengarkan ocehannya tentang kehebatan Polisi, dan beraksi seperti halnya tokoh yang ia lihat, saya menjadi miris.. sampai saya akhirnya bilang, “Kakak, kalau mau jadi Polisi di US aja deh”. Bukan saya sok Amerika.. saya tak lebih dari sekedar pengagum karakter bangsa dan kharisma pemimpin negaranya. Saya hanya seorang ibu, yang tidak rela bila nilai-nilai kebaikan yang saya tanamkan sejak kecil akan menjadi tak berguna saat ia dewasa dan masuk dalam sebuah sistem yang hampir menjadi rahasia umum, adalah sistem yang mendewakan materi.  Saya tak sanggup membayangkan bayi mungil saya, harus bekerja dengan jalan yang kurang tepat, karena sistem yang tak bisa dilawannya.

Pak Polisi yang budiman…

Saya tidak sedang menunjuk dengan angkuh dan merendahkan profesimu, karena saya pun dikelilingi Polisi dengan pribadi-pribadi baik yang tidak terkikis arus. Namun dengan sedih saya katakan, pribadi-pribadi baik itu rata-rata tidak sejahtera di akhir masa aktifnya. Kakak yang semakin besar pun tahu kenyataan itu. Meskipun dengan pemahaman seadanya.

Saya hanya seorang ibu yang berharap bisa tanpa was-was membiarkan anaknya menumbuhkan kekagumannya pada sosok profesi Polisi, tak lagi harus menyarankan anaknya menjadi Polisi di luar negeri dan dengan semangat justru mendorong sang anak berkarya mengabdikan hidupnya untuk kepentingan negaranya, bukan untuk komandannya…

Pak Polisi yang budiman…

Apakah kau tak menginginkan hal yang sama?

Tegak berdiri menyandang atributmu, dengan rakyat sepenuh hati berada di belakang mendukungmu. Seperti halnya saat Densus 88 berhasil membuktikan bahwa mereka mampu melindungi negara dan rakyatnya. Atau saat seorang Polantas berpeluh mendorong angkot mogok tanpa diminta dan dibayar agar jalanan Jakarta tak semakin ruwet. Bukan di belakangmu dan kasak kusuk memperbincangkan segala macam hal dengan suara rendah agar anak-anak tidak perlu mendengar hal-hal ngeri dari institusimu?

Apakah kau rela membiarkan anak-anak melihat orangtuanya menjadi bagian dari rakyat yang menghindari profesi dan institusimu? Karena takut akan kehilangan kambing saat mengurus kehilangan ayam?

Apakah kau rela melihat anak-anak tumbuh dan melihat seragam coklat dan peluitmu hanya menjadi sosok menyeramkan di jalan raya?

Sungguh, saya berharap, semua itu akan berubah..

Kelak anak-anak bisa menyandang seragam coklat dengan berwibawa, berkarya nyata dengan segala nilai-nilai kebaikan yang kami, orangtuanya, tanamkan sejak kecil, tanpa merasa takut di akhir masa pengabdiannya mereka tidak sejahtera.

Pak Polisi yang budiman…

Selamat Hari Bhayangkara, semoga akan ada satu hal yang akan secara drastis mengubah semua kekhawatiran tadi menjadi satu kebanggaan besar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s