Sahabat, Bagi Saya..

Standard

Setiap orang mungkin punya definisi masing-masing tentang ‘sahabat’..

Ada yang bilang sahabat itu orang lain yang jelas bukan keluarga, namun kualitasnya setara dengan keluarga. Yang lain *sering muncul di BMnya BBM* mendeskripsikan sahabat dengan cara membandingkannya dengan pasangan, dengan mengatakan sahabat adalah seseorang dengan kasih sayang yang jauh lebih tulus, tanpa meminta balasan, melebihi pasangan.

Banyak lagi lainnya, dan kebanyakan mendeskripsikan sahabat dengan batasan-batasan tertentu yang akhirnya akan mensortir sedemikian banyak teman, sehingga mengerucut ke satu dua orang sahabat saja. Nah, bedanya teman dengan sahabat? Sahabat sering dideskripsikan sebagai penghuni puncak tertinggi hirarki pertemanan, sesuai dengan batasan-batasan tadi.

Lalu, setelah selesai urusan dengan batasan dan persyaratan tadi, logikanya, sekali kita menemukan orang yang kita sebut sahabat maka ia akan terus menjadi sahabat kita bukan? Sederhana saja, mana lah bisa orang dengan kualitas premium penghuni puncak hirarki pertemanan kita adalah seseorang yang bisa turun derajat menjadi sekedar teman?

Nyatanya saya berganti-ganti sahabat, mungkinkan sahabat-sahabat saya turun derajat?

Ahh bukan… tapi karena situasi saya berubah.

Dari SD ke SMP, SMA, kuliah, dan terus dan terus.. di setiap tahap itu saya punya sahabat.  Juga kenyataan bahwa saya pun harus hidup berpindah kota. Surabaya, Jakarta, Jogjakarta, balik lagi ke Jakarta. Belum lagi berbagai komunitas tempat saya nyemplung, fans grup musik, papercrafter, pembaca majalah, klub mobil, pecinta voli, pecinta sejarah, wuiiihhh makin banyak kan peluang dapet orang-orang dekat yang baru?

Jadi, sahabat ngga eksklusif lagi dong? Lha wong banyak kok..

Gimana lagi? Tidak bisa dipungkiri, meskipun jarak sudah dengan mudah teratasi dengan sarana komunikasi canggih, tetap saja, ada saat-saat tertentu saya membutuhkan sahabat berada di sebelah saya, secara batin dan lahir..  jadilah ada kalanya di sini saya terlihat sangat dekat dengan A, disana dekat dengan B, di lain waktu lagi saya dekat dengan C, D, E.. wahhh, banyak juga ya orang yang ‘pernah’ jadi sahabat saya ya?

Sekarang mantan? Ya nggak juga, lha ternyata hampir semua kok, para sahabat itu masih berhubungan baik sampai sekarang dengan saya, dengan intensitasnya masing-masing.

Hampir Bubu? Ada yang ngga dekat lagi berarti? Ada laaaahhh…

Saya dulu pernah menulis, ada kalanya kita membuat jarak dengan seseorang bukan untuk menjauh, namun untuk mereformat posisi dan menentukan sikap terbaik, menyesuaikan diri dengan keadaan yang berubah. Adakalanya, upaya itu sulit berhasil. Salah satu sebabnya, karena kami sama-sama manusia yang berkembang. Tentu ada pengalaman-pengalaman hidup yang membuat kami berdua ternyata berkembang ke arah yang berbeda, bahkan berlawanan, sehingga tidak lagi bisa meyakini satu hal yang sama dan memutuskan untuk berjalan di jalan kami masing-masing.

Lalu, apakah berarti si orang tadi sebenarnya bukanlah seorang sahabat? Karena salah satu deskripsi sahabat yang sering terdengar tadi adalah tulus menerima dan memahami?

Hahayyy.. makin riweuh?

Bubu siiihhhh… senengane mikirin sesuatu yang ngga perlu dipikirin.. sok filsuf deh :p

Eh tapi, justru renungan sok filsuf ngga penting ini akhirnya bisa mereduksi segala batasan yang saya tahu tadi.

Saya memutuskan untuk tidak terlalu banyak membuat batasan ini itu, terima kenyataan bahwa “sahabat” adalah sebuah titipan Tuhan juga, yang secara mudah bisa diberikan dan diambil-Nya kembali dari sisi saya dengan cara apa pun. Selama masih dititipkan pada saya, ya saya harus belajar tulus menerima dan memahami.. kalau ternyata saya tak mampu menerima dan memahami lagi, bisa saja mungkin Tuhan sedang berkata, bahwa saya dan dia sudah tidak tepat lagi sebagai sahabat. Wajar saja, toh tidak bersahabat bukan selalu berarti bermusuhan kan?

Finalnya, dari perenungan sok filsuf dini hari ini, serta banyak fase naik turunnya grafik persahabatan yang pernah saya lewati, hanya dua konsep yang saya pahami betul, tentang orang-orang yang dipilihkan Tuhan menjadi sahabat saya.

Pertama.

Mereka lah orang-orang dimana saya bisa menjadi diri saya sendiri, ngga perlu jaim, ngga perlu palsu, ngga perlu repot pasang topeng ini itu.

Kedua.

Mereka adalah orang yang sanggup membuat kita merasa nyaman, merasa kuat, tanpa harus banyak bicara dan berbuat. Hal-hal kecil seperti tatapan, pelukan, jabat tangan, sentuhan kecil, bahkan diamnya, bisa berarti besaaaaaarrr.

Teman-teman punya arti sendiri tentang sahabat? Silakan.. maknai sebebas-bebasnya..  :)

*perenungan ini terkenang alm. Adjie, salah satu sahabat yang bersamanya saya terbukti berhasil melewati fase naik turun, till death do us apart. Aku memutuskan tidak akan mengenang setahun pergimu Djie, aku memilih mengenang persahabatan 5 tahun kita yang singkat namun penuh makna di dunia dan di hati selamanya*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s