Tegur, Ingatkan.. Jangan Mencela..

Standard

Salah satu peristiwa yang paling sering kita saksikan di tayangan infotainment adalah perceraian selebritis. Di luar itu, tentunya banyak sekali, bahkan pasti lebih banyak, pasangan non selebritis yang juga mengalami hal serupa. Bedanya, karena terekspos media, secara visual kita jadi bisa melihat, bagaimana perbedaan kondisi mereka saat bercerai dengan saat-saat menikah yang juga tumpah ruah pemberitaannya di media. Nah, visualisasi itu yang sering membuat saya teringat kembali peristiwa sama yang pernah saya alami, gila ya, bisa aja gitu, habisssss bisss, cinta dan kasih sayang yang meluap-luap diawal pernikahan. Kemana perginya?

Jawabannya banyak tentunya..bermacam-macam bagi setiap pasangan. Salah satunya ingin saya tulis disini setelah beberapa hari yang lalu mendengar petuah tentang bekal pernikahan. Sang bijak itu berkata, “Apabila menemukan masalah saat sudah bersama nanti, ganjalan perbedaan dan sebagainya, bicarakan dengan baik-baik, jangan mencela. karena mencela itu memunculkan rasa sakit hati, dan ujungnya kebencian.”

Dueerr..

Simpel ya sepertinya, mencela itu kadang tidak disadari jadi makanan rutin saat kita mengalami ketidakpuasan terhadap suatu hal.

Aahh, kamu gimana sih, gini aja ngga bisa…

Kamu dimintain tolong bawain ini aja lupa-lupa terus, pikun amat sih..

Lho..lho..kok itu ditaruh situ lagi? Jorok deh kamu..

Dan sebagainya..dan sebagainya..

Mencela..mencela..mencela..untuk hal-hal kecil kadang, tapiiii, tanpa disadari itulah bibit kebiasaan yang akhirnya diterus-teruskan saat ketemu masalah besar juga. Akibatnya apa? Masalah besar itu, jangankan kok diselesaikan, proses menyelesaikan masalahnya saja, jadi masalah tersendirikan?

Bom waktu!!

Nah kalau sudah tahu itu akan jadi bom waktu, kenapa masih dilakukan? Apa sih sulitnya untuk tidak mencela? Kenapa orang mencela?

Mencela itu berhubungan dengan dua hal, power/kekuasaan dan kemampuan berkomunikasi.

Kita bongkar satu-satu..

Power itu apa? Karena yang kita bicarakan disini konteksnya power dalam marital relationship, jadi mengerucut kesitu saja ya.. Menurut ahlinyakan, power itu kemampuan untuk mempengaruhi pasangan untuk memperoleh apa yang kita inginkan.

Power itu normal, biasa, wajar, karena setiap orang pasti punya keinginan yang ingin terpenuhi. Tetapi, need of power itu berbeda-beda, dan itu yang potensial jadi masalah, kalau ternyata dalam satu pasang, kedua-duanya punya need of power yang besar. Jadilah konflik.

Kenapa orang bisa punya need of power besar?

Jawabnya juga beragam, ada yang untuk aktualisasi diri, kurang puas rasanya kalau tidak semua yang dia mau terpenuhi.Adayang karena tuntutan sosial, laki-laki yang tumbuh dalam budaya patrialkal kental akan mempunyai konsep bahwa laki-laki harus selalu dituruti.Adajuga yang hasil turunan, ibu/bapak yg otoriter biasanya juga meneruskan sikap otoriter ke anak-anaknya. Dan bisa juga karena kebutuhan psikologis, merasa ketakutan kalau dianggap lemah, karakter-karakter ambisius atau perfeksionis seperti saya? :p

Kaitannya dengan mencela tadi?

Kita sambungkan dulu antara power dengan communication skill.. kemampuan berkomunikasi.

Secara singkat, pola komunikasi dibagi menjadi tujuh tipe, tidak perlu saya uraikan ya, karena dari judulnya udah kebayang kok modelnya..

–          open, honest, tactful communication

–          superficial communication

–          one-sided communication

–          false communication

–          avoidance communication

–          non communication

–          angry communication

dari tipikal di atas bisakanmembayangkan kalau orang dengan need of power besar ternyata juga hobi melakukan komunikasi model false/angry one sided communication… komplikasi beneran!! Hehehehe… Setiap hari yang muncul marah..marah..mencela..mencela… kalau pasangannya punya karakter mirip, apa ngga perang dunia terus? Atau kalau masih  ‘beruntung’ punya pasangan dengan karakter nerimo dan sabar, eittssss hati-hati, jangan sampai hal ini menguras energi pasangan dan anak-anak ya.. kembali ke petuah tadi, menimbulkan sakit hati dan ujungnya kebencian. Sekali lagi, bom waktu!!

Petuah tadi menjadi bahan refleksi buat saya, 7 hari yang lalu saya dengar, selama 7 hari pula bermain-man di kepala saya, sampai buka-buka buku lagi dan review-review tentang diri saya, sampai muncul ide untuk berbagi melalui tulisan ini.

Mudah-mudahan yang saya tulis, bisa jadi bahan refleksi juga untuk semakin mengenal diri, mengenal orang-orang di sekitar kita, karena mengenal itu kunci untuk memahami..memahami kunci untuk mengerti..mengerti kunci untuk menerima..  :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s