Long Distance Relationship

Standard

LDR.. LDR.. LDR..

Siapa orang yang tak mau memiliki kehidupan yang berjalan normal? Semua orang pasti menginginkannya.. termasuk dalam urusan membina hubungan. Tetapi terkadang ternyata Tuhan mengarahkan seseorang ke arah yang berbeda dengan apa yang diinginkannya, salah satunya ‘terpaksa’ menjalani hubungan –baik pernikahan, pertunangan, pacaran—jarak jauh, atau kita sebut LDR aja lah, biar singkat, long distance relationship..

Berawal (lagi-lagi) curhat seseorang, saya terpikir untuk berbagi tentang ini, tentang apa yang saya dengar, lihat dan alami.

Kemarin, sebelum saya memulai menulis, saya sempat menanyakan pada teman-teman, apakah hal paling sulit yang harus dihadapi dalam menjalani LDR. Beberapa jawaban masuk ke meja redaksi, *halahhhh…*

Sebelumnya, saya perjelas dulu, bahwa urutan tidak menunjukkan skala prioritasnya, karena segala hal ini akan sangat subyektif sekali sifatnya, penting dan prinsip bagi saya, belum tentu juga buat orang lain, dan sebaliknya. Masih berkaitan dengan subyektivitas itu, pengalaman yang saya tuliskan juga bukan menunjukkan bahwa itu yang benar atau terbaik, hanya berbagi..

Kita lihat satu per satu ya..

1. Kepercayaan

Paling susah ya?

Kemarin ada yang mengatakan, bahwa sulit sekali menanamkan kepercayaan pada sebuah kondisi LDR.. padahal saya bilang “ah enggak kok, saya ngga pernah merasa terganggu soal itu

Mengapa demikian?

Orang bisa berbeda pendapat, berbeda prioritas karena memiliki pola pikir yang berbeda, referensi yang digunakan pun berbeda. Referensi itu sangat lebar variasinya, tergantung pada pengalaman hidup masing-masing.

Dalam kasus ini, saya menjadi sangat santai meletakkan kepercayaan karena pengalaman hidup saya mengajarkan bahwa sekuat apa pun saya mengendalikan perasaan orang lain terhadap saya, saya tidak pernah punya kuasa atasnya..

Jangan ditanya, saya pun pernah, sering malah, jatuh bangun untuk urusan kepercayaan ini..

Saya pernah merasa sudah cukup berbuat baik, bahkan habis-habisan supaya si dia tidak berpaling, ternyata gagal.. saya juga pernah kalah bersaing bukan dengan wanita lain, tapi dengan orangtuanya.. saya pernah ‘memaksa’ seseorang tetap bersama saya, kenyataannya hanya fisiknya yang ada, tapi tidak hati dan pikirannya, saya pernah ‘memaksa’ Tuhan untuk menjadikan seseorang menjadi jodoh saya, ternyata tidak baik hasilnya.

Sekian banyak hal itu membuat saya saat ini sampai di titik keyakinan penuh bahwa bukan saya penguasa hati dan pikiran seseorang, melainkan Dia dan dia. ‘Dia’ Sang Maha Pembolak-balik Hati dan ‘dia’ si manusia yang dengan akal budinya mampu dengan sadar membuat komitmen.

Maka tugas saya adalah mencari ‘dia’ yang cukup qualified untuk mampu berkomitmen, dan cukuplah bagi saya, selebihnya saya bisa percayakan pada ‘Dia’

2. Komunikasi

Nah.. ini gampang-gampang susah..

Era teknologi tinggi banyak memudahkan kita untuk berkomunikasi, seakan tidak ada lagi jarak karena banyaknya gadget canggih serta jalur komunikasi suara dan data yang makin terjangkau harganya.

Masalahnya, semua itu tetap kembali ke bagaimana si manusia mengelolanya. Manajemen waktu, penentuan skala prioritas tidak bisa dikendalikan oleh si gadget bukan?

Kadang saat apa yang ada di pikiran kita sudah meluap, pengen curhat, telepon ngga diangkat, SMS/YM/BBM ngga di reply juga, email apalagi… hehehe.. giliran si dia nongol, telaaaaatttt udah nguap… udah bete, udah males ngomong… ada yang pernah ngerasa begitu?

Saya sering. :p

Nah itu baru kendala aksesnya.. kadang akses tidak bermasalah, tapi kualitasnya.. telepon diangkat, tapi diajak ngomong cuma  “iya.. he’eh..ooo.. terus?” hehehehe…makin bete deehhhh…

Akibatnya? banyaaaaaaaaak… lain kali kita bahas lagi yaaa…

3. Kedekatan fisik

Dari kemarin teman-teman yang saya tanya cuma satu yang nyerempet urusan ini, katanya meskipun sudah komunikasi kalau ngga ketemu orangnya, tetep bikin sewot hehe.. saya kurang yakin apakah benar berkaitan dengan ini atau tidak.

Dulu, duluuuuuu sekali, saya tidak pernah mau pacaran sama orang yang tidak sekota dengan saya, alasan saya males ah, ngga suka aja. Makin kesini makin saya paham, saya adalah orang dengan tingkat kebutuhan afeksi yang sangat tinggi. Saya butuh kedekatan secara fisik, jangan ngeres.. haha.. maksudnya, mungkin mirip dengan si teman tadi, meskipun sudah ngomong sak pol’e di telepon, tetap ada yang kurang kalau belum lihat wujudnya.🙂

Untuk yang sudah menikah, jangan lupa, di berbagai teori, kebutuhan biologis selain makan dan minum, adalah kebutuhan terdasar manusia.. jangan lupa juga, meskipun banyak orang bicara ahhh, pernikahan bukan cuma untuk urusan seksual, tapi nyatanya masalah ini masih jadi top five penyebab perceraian. So please, do not ever under estimate this issue..😉

4. Kedekatan emosi

Pendapat menarik dari seorang teman yang lain kemarin adalah hilangnya kebersamaan dalam menikmati momen yang seharusnya akan lebih terasa nikmat bila dilewatkan bersama.

Saya meyakini kedekatan emosional terbangun tidak dalam semalam, tapi melalui proses tumbuh bersama-sama dalam sebuah hubungan, salah satunya ‘being witnessed..’ sebagai makhluk sosial, manusia selalu membutuhkan saksi dalam perjalanan hidupnya.. bahkan untuk manusia-manusia soliter seperti saya.

Ngga percaya?

Saya ngaku soliter, tapi berapa banyak status, foto, update lokasi dll yang saya post di halaman saya? Itu bukan semata narsis, seperti yang sering orang bilang, tapi lebih ke pemenuhan kebutuhan ‘being witnessed’ tadi, sama halnya dengan mengapa orang mengundang keluarga dan sahabatnya pada momen penting hidupnya, hanya lewat ‘dunia’ yang berbeda.

Setiap orang berbeda dalam menentukan momennya, ada yang semuaaaaaaa harus dishare dengan pasangan atau keluarga, sampai terkesan demanding, banyak menuntut, ada yang biasa-biasa saja. Masalah akan muncul saat kedua pihak ngga kompak, yang satu merasa penting, yang lain tidak.

Masih tentang kedekatan emosi, salah satu tujuan orang menikah adalah berpartner, menemukan pasangan, penyeimbang dalam segala hal. Dan ini lebih sulit dilakukan dalam kondisi jauh. Sering sekali saya mendengar, bahkan juga mengalami, bagaimana seorang istri akhirnya bablas terlalu mandiri saat harus menjalani kehidupan yang terpisah. Menjalankan peran ganda, sebagai ayah dan ibu, menjalankan tugas laki-laki dan perempuan, membuat perempuan akhirnya dituntut mampu melakukan banyak hal, kadang secara tidak sadar hal itu menumbuhkan perasaan ‘ahh ga ada dia pun saya bisa’. Demikian juga sebaliknya..

Hati-hati… ini bibit munculnya gejala penurunan respek pada pasangan.. saat ada waktu bersama-sama, apa-apa yang sudah kita jalankan dengan pola/cara kita harus bertabrakan dengan pola/caranya, dan kadang saat kita tidak mampu mengelola hati, bisa muncul pernyataan “ahhh, gimana sih kamu, aku biasa begini, kamu begitu.. ngga ada kamu malah beres semua”.

Hyaaaaa,  ini bom waktu, tinggal tunggu dhhuuuaaaaarrr-nya aja…

Selain itu, untuk yang sudah punya anak, pengalaman mengajarkan, membangun kedekatan emosi anak pada sosok yang jarang ditemui, perlu upaya ekstra, baik dari ayah maupun ibu. Kondisi ini sensitif sekali, saya pernah menuliskan bahwa hal ini pernah jadi sandungan besar dalam hubungan saya.

Hadduh, kok udah jadi panjang ya.. cuma empat poin padahal… udah ah, keburu bosen yang baca.

Eh tapi, pesan layanan masyarakat dulu, apa yang saya tulis bukan bermaksud mengecilkan hati teman-teman yang sedang menjalani hubungan serupa dengan ini, tidak semua hal ini pasti terjadi, semua berpulang pada kesiapan masing-masing individu.

Jadikan sharing ini sebagai semacam bagian kecil manual book aja ya, mudah-mudahan bisa buat tempat kita belajar bersama-sama..stay positive…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s