Sekolah Bagus??

Standard

Beberapa waktu terakhir, mulai banyak teman dan kerabat yang berbagi dan mendiskusikan rencana-rencana mencari sekolah untuk putra-putrinya.. ya, karena di bulan-bulan ini — atau malah sudah dari kemarin-kemarin😉 — sekolah membuka pendaftaran murid baru untuk tahun ajaran mendatang.

Dari sedemikian banyak diskusi dan percakapan, benang merahnya cuma satu, rata-rata orang tua mau mencari sekolah yang bagus untuk anaknya.

Nah, sekarang pertanyaannya, sekolah bagus itu seperti apa?

Terus terang, saya agak kesulitan ketika ditanya sekolah A bagus ngga ya? sekolah B gimana?

Karena bagus itu sangat relatif sifatnya.. bagus buat saya belum tentu bagus buat orang lain. Akan lebih mudah bagi saya untuk menjawab, gimana ya cara memilih sekolah yang bagus?

Sekedar berbagi saja, dari pengetahuan dan pengalaman saya, inilah beberapa poin cara memilih sekolah yang tepat untuk anak. Karena based on pengalaman, maka, maaf ya, tanpa bermaksud menyatakan bahwa pilihan saya sudah yang paling tepat, yang saya tulis disini adalah tentang apa yang saya lakukan dulu dan sekarang.

O ya, sekalian saya cantumkan nama sekolahnya, juga bukan bermaksud promosi, karena tanpa promosi pun mereka sudah punya nama baik dan besar, sekedar referensi saja, sekalian.. siapa tahu ada yang perlu informasi sekolah-sekolah..

Pertama..

Tentukan visi

Visi orang tua dalam membesarkan anak-anak ibarat pondasi. Bangunan tanpa pondasi yang kuat biasanya akan mudah ambruk kan? Maka dari itu, orangtua harus mutlak wajib, punya visi, akan ke arah mana busur dilepaskan, akan seperti apa anak-anak akan kita bentuk. Visi ini lah yang akan menjadi dasar memilih sekolah.

Saya mengenalkan Arya pada konsep sekolah sejak usia 2 tahun 3 bulan, karena saya percaya stimulasi tepat yang dimulai sejak dini akan memberikan hasil yang optimal. Sebelum masuk TK, Arya tidak melewati fase playgroup, saya memilih Book Monster, sebuah daycare yang dikelola oleh mbak Alissa Wahid, di daerah Timoho, Jogjakarta. Kebetulan lembaga ini tidak jauh dari rumah kami, saya tertarik dengan namanya, Book Monster.. iconnya pun lucu, sebuah beruang yang sedang menggigit buku..hehe.. Naahhh ini yang saya cari, passss banget dengan visi saya menjadikan Arya tertarik untuk suka membaca. Disana, bukan sekedar daycare, tempat nitip anak, pagi diantar sore dijemput, tapi program-programnya sangat bagus, saya mendapatkan partner tepat dalam pendidikan usia dini Arya.

Hasilnya? Dua buah lemari buku miliknya, betahnya Arya di toko buku dan perpustakaan, habitnya untuk selalu mencari jawaban pertanyaannya di ensiklopedi cukup menandakan pilihan saya tepat sasaran😉

Next, saya bervisi menjadikan Arya memiliki dasar agama yang baik, namun juga memiliki pemahaman baik tentang keberagaman dan bagaimana hidup dalam keberagaman. Untuk itu, saya lebih suka TK yang tidak berbasis agama namun kultur pendidikannya mendukung anak-anak untuk beribadah dengan baik..

Sempat setahun tinggal bersama eyangnya di Surabaya, saya akhirnya ‘terpaksa’ memilih TK Raudhatul Jannah di daerah Wisma Permai Bungurasih (kalau ngga salah). Sekolah ini adalah pilihan terbaik saat itu karena tidak begitu jauh dari rumah keluarga saya. Meskipun berbasis agama, saat pendaftaran, saya pastikan terlebih dahulu dengan pihak sekolah, bahwa sekolah tidak akan memberikan muatan-muatan pendidikan yang mendiskreditkan agama lain dan tidak mudah menyatakan haram-halal, surga-neraka pada anak-anak.. Itu big no no, buat saya😀

Alhamdulillah, sekolah ini sangat mendukung visi, mereka bisa berfokus pada pendidikan akhlak.

Setelah kembali ke Jogja, Arya melanjutkan sekolah di TK Pelangi Indonesia, dikelola oleh miss Yeni Triwahyuningsih, di daerah Colombo. Kembali saya menemukan visi sekolah ini sejalan dengan visi saya, mendidik anak-anak memahami dan menghargai keberagaman. Satu kegiatan yang berkesan sampai sekarang adalah, Multicultural Party, sebuah event khusus untuk merayakan keberagaman.. hasilnya, Arya tumbuh menjadi anak yang bisa beradaptasi dengan perbedaan, tidak gampang nggumun dengan ritual agama maupun budaya lain, dan meluas pada respek terhadap pilihan-pilihan orang lain, tidak menganggap pilihannya yang paling baik dan benar.

Kenali karakter anak

Setelah pondasi, hal yang harus jadi pertimbangan adalah karakter anak. Sesuaikan pilihan yang menurut kita baik dengan karakter anak. Jangan sampai apa yang menurut kita baik justru malah jadi sumber stress buat anak-anak.

Poin ini bisa saya gambarkan dengan mengapa saya memilih SD Budi Mulia Dua, Seturan. Arya tipikal anak yang moody, tidak tahan terhadap sesuatu yang terlalu terikat.. saya bisa bayangkan seandainya saya harus menyekolahkan Arya di SD yang menerapkan cara belajar saklek, pasti dia akan cepat bosan.. Kelas 1 SD, menurut saya adalah transisi, dimana anak dipersiapkan masuk ke jenjang pendidikan yang lebih formal. Di masa transisi itu, saya melihat akan lebih baik kalau Arya tidak mengalami perubahan drastis dalam pola belajar. BMD membebaskan anak-anak untuk belajar sambil duduk di kursi atau gelesetan di lantai, asal tugas-tugas terselesaikan.. anak-anak dibebaskan tanpa buku paket, boleh pakai acuan apapun, tanpa PR karena jam sekolah sudah cukup panjang.. saya lihat Arya enjoy belajar, nilai-nilainya diatas rata-rata, dan yang terpenting ia tidak pernah malas berangkat sekolah, sesuai dengan visi sekolah tersebut, sekolah dengan senang, senang di sekolah.

Kenali family value

Masih berhubungan dengan visi, value/nilai-nilai yang dianut dalam keluarga adalah sesuatu yang harus sejalan dengan lembaga pendidikan yang kita pilih. Saya pisahkan disini supaya bahasan tentang visi tidak terlalu panjang.

Sewaktu Arya masih bersekolah di BMD, saya melihat ada beberapa orangtua murid yang akhirnya memindahkan anak-anaknya ke sekolah lain karena melihat anak telat beberapa bab dibanding anak-anak dari sekolah lain. Atau anaknya ternyata baru belajar Iqra’ sedangkan anak lain sudah sampai Al Quran. Ada lagi yang merasa aneh kok ada sekolah ngga pakai PR.. kuatir anak-anaknya ngga mau belajar kalau ngga ada PR, hasil belajar tidak maksimal dan saat lulus SD tidak bisa bersaing menembus sekolah favorit.

Disinilah terlihat betapa value keluarga memang harus sejalan dengan konsep sekolah. Saya bisa santai-santai saja, lihat Arya masih Iqra 3, sedangkan anak tetangga sudah lancar baca Al Baqarah, hafal surat-surat yang lumayan panjang.. karena buat saya bukan level yang penting, tapi kemauan Arya mengaji.. juga bukan hafalan yang penting, tapi pemahaman Arya terhadap apa yang ia baca saat mengaji.

Sesantai saya menghadapi Arya tertinggal beberapa bab pelajarannya, karena saya yakin, tak perlu lah anak dipaksa belajar materi seluas samudera namun karena berbagai keterbatasan akhirnya hanya sedangkal empang.. eh empang dangkal ngga ya?? hihihi.. saya lebih suka, Arya memahami konsep dengan baik, karena penerapannya bisa meluas nanti di saat dan jenjang pendidikan yang lebih tepat. Nilai buat saya bukan harga mati, itu hanya angka yang saya manfaatkan sebagai tolok ukur apakah Arya bisa mengikuti pelajaran dengan baik atau tidak.

Tapi sebaliknya, jangan harap saya santai, saya bisa protes keras, saat tahu ada salah satu teman yang membawa uang saku berlebih, atau membawa gadget terlalu canggih ke sekolah.. diluar sekolah, itu terserah orangtuanya, tapi jangan di sekolah, saya ingin Arya tumbuh dalam lingkungan yang bersahaja.. BMD saya pilih karena saya melihat banyak anak-anak yang juga diantar dengan sepeda motor, tidak semua bermobil.. SD Quantum Indonesia saya pilih diantara banyaknya sekolah berkualitas premium di kawasan Cibubur, karena di sekolah itu saya masih merasakan aura yang jauh dari kesan jetset… saya ngeriiiiii…

Atau saat mendengar ada peristiwa bullying, wuaahhhh haram hukumnya.. saya pasti usut tuntas itu, meskipun bukan Arya korbannya.

Di QI, saya terkesan dengan value, anak-anak boleh berbuat salah tapi tidak boleh berbohong.. itu jauh lebih penting daripada angka.

Perhatikan pendapat anak

Orangtua memang wajib memilihkan yang terbaik bagi anak, tapi jangan lupa, apa yang baik itu kan menurut kita, perhatikan apa yang jadi keinginan anak juga.. ada hal-hal yang mutlak menjadi keputusan kita, ada juga hal-hal yang harus mempertimbangkan keinginan anak.

Arya memilih sendiri QI, saya ajak dia mendatangi beberapa sekolah yang match dengan semua  kriteria-kriteria tadi.. karena dia yang akan menjalani, maka dia punya hak memilih mana yang sreg di hatinya, sekalian mengajarkan bahwa setiap pilihan harus disertai dengan konsekuensi. SDQI ini 22 km jaraknya dari rumah kami sekarang, Arya harus berangkat lebih pagi, tapi so far, dia enjoy, karena sadar pilihan yang dibuatnya.. berangkat pagi sepadan dengan kegembiraannya bersekolah.. itu yang penting🙂

Last but not least,

Sesuaikan dengan kondisi keluarga

Pertimbangkan dengan teliti semua hal, kondisi keuangan, sarana yang dimiliki keluarga, kesehatan, support system dalam keluarga.. karena kadang hal tidak terpikir akhirnya jadi masalah saat menjalaninya..

Well, sudah sangat panjang tulisan ini.. mudah-mudahan ada manfaat yang bisa diambil ya teman-teman.. selamat berburu sekolah, semoga pilihan kita menjadikan anak-anak tumbuh optimal menjadi generasi yang bisa diandalkan🙂

4 responses »

  1. Hai Mbak Renni, salam kenal. Saya baru aja baca blognya tentang Arya yg akhirnya sekolah di QI Cibubur. Sepertinya seru ya sekolah disana, sampai2 jarak yg lumayan itu bukan jd halangan. Hebat Arya.

    Saya mau nanya sedikit boleh? Saya ada rencana mau memindahkan anak saya ke kelas 2 di tahun ajaran 2015 ini. Kira2 Mbak Renni bisa kasih gambaran gak ya? Adaptasinya akan sulit gak ya untuk murid pindahan? Ohya, anak saya perempuan. Lalu, sejauh ini gimana pendapat Mbak Renni mengenai QI?

    Hmmm…sebenernya banyak sih yg mau ditanyakan. Hehehe. Ohya, saya mau add fb mbak boleh ya? Makasih.

  2. book monster sebelah mana sih school nya ak cb cari ndak nemu.yg nemu dunia kecilku sama ceria…mhn info ya mba…trims

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s