Pahami…Berhentilah Berprasangka…

Standard

Kita mungkin pernah bertanya-tanya tentang seseorang yang kita kenal.. “Katanya lagi susah, tapi kok keliatan baik-baik aja di Facebook-nya” atau “Ih, ngga nyangka deh kalau ternyata dia lagi ada masalah begitu, wong sehari-hari cengengesan aja isi timelinenya”

Atau dulu sebelum ada socmed, kita mungkin pernah melihat, bagaimana seseorang begitu berbeda di rumah dan di kantor misalnya, di rumah dan sekolah… seperti amphibi, hidup dalam dua dunia…

Lalu sebagian mungkin ada yang lanjut berkesimpulan, “Ahhh, emang dasar orang ndableg, ngga ada prihatinnya..” atau “haduh, orang aneh, berkepribadian ganda”  dan amit-amit, itu akhirnya muncul jadi rasan-rasan, bahan rumpi sana-sini, bahan komentar ini itu..

Ngacung!! Saya (pernah jadi) salah satunya… dan sempat tertahan dengan konsep berpikir demikian, sampai akhirnya bisa mengamati lebih dalam, bahkan merasakan dengan nyata, bahwa hidup saya pun berproses melewati hal-hal serupa itu.

Idealnya, kehidupan seseorang itu terintegrasi, di rumah, kantor, dunia nyata, maya, semua terlihat sama… lalu kenapa beberapa orang merasa harus seperti memiliki dua dunia?

Penjelasan pertama, tidak semua orang seberuntung itu, memiliki kehidupan baik-baik saja, normatif, tanpa aib, tanpa masalah pelik, yang bisa dengan mudah ditampilkan tanpa harus lewat lembaga sensor pribadi. Dan tidak semua orang punya keberanian yang cukup untuk mengatakan pada lingkungan sosialnya bahwa ada sisi kehidupannya yang kurang menyenangkan untuk dibagi..

Penjelasan kedua, pada beberapa orang masalahnya bukan pada berani atau tidak berani menyatakan, melainkan terletak pada ukuran pantas dan tidak pantas.. Ini variannya bisa sangat luas, mengingat betapa heterogennya masyarakat kita.

Poin pertama dan kedua adalah hal yang sangat biasa, karena sebagai makhluk sosial yang selalu berhubungan dengan orang lain dan terikat dengan berbagai macam norma, seseorang pasti lah merasa perlu untuk membuat branding yang baik tentang dirinya, agar dapat diterima dengan baik dalam lingkungan. Maka dimulailah kerja lembaga sensor pribadi tadi, istilahnya persona, versi diri yang ingin ditampilkan untuk dilihat publik.

Penjelasan ketiga ini yang agak ‘berat’, karena ternyata ada seseorang yang tanpa ia sadari, dirinya tidak punya nyali untuk mengakui, bahkan pada dirinya sendiri, bahwa hidupnya penuh dengan masalah, dan ia berusaha menciptakan satu kehidupan baru yang ideal dan sesuai dengan harapannya. Bukan jaga image lagi judulnya, tapi sudah ada yang sedikit ngga beres dengan kesehatan mentalnya.. jarang, tapi ada..

Kalau ketiga penjelasan itu sudah kita ketahui, —tentunya itu adalah penjelasan-penjelasan sederhana dan masih banyak kemungkinan-kemungkinan lain— boleh dong sedikit-sedikit kita belajar untuk memahami bahwa manusia itu kompleks, sangaaaaatttt kompleks, yang untuk memahami satu sisinya saja perlu pengamatan dan pemahaman.

Media sosial, tempat kita nyemplung berinteraksi dengan teman-teman menyediakan sangat banyak informasi baik secara tersurat maupun tersirat, tinggal kita yang memilih, mau menelan mentah-mentah atau berusaha melihat lebih dalam, sehingga kita akan lebih mampu menahan diri untuk membuat komentar, prasangka dan penghakiman. Kalau sudah semikian, media sosial tidak akan lagi menjadi tempat buang waktu dan biaya, karena ia mampu menyediakan banyak hal untuk belajar untuk memperkaya jiwa.

Yuk, belajar sama-sama…😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s