Dini Hari di Jalanan Jakarta

Standard

Hampir sebagian besar orang yang tahu kebiasaan jalan-jalan dini hari saya berkomentar kalau saya kurang kerjaan, keluyuran pagi buta, sendirian, ngga ada tujuan. Padahal itu keliru lho, biasanya saya justru kumat ide jalan-jalannya justru kalau sedang banyak kerjaan, dan disaat yang sama suasana hati tidak mendukung. Daripada tambah bete, refreshing perlu dong😉

Kebiasaan ini muncul sejak tinggal di Jakarta, tahun 2002, eh salah, tepatnya sesudah mampu punya mobil, tahun 2003. Ngga mungkin juga jalan-jalan naik angkot tengah malem kan, bisa-bisa sopir angkotnya saya bayar pakai daun sekalian.. haha.. *Suzanna mode on*. Lalu sempat hilang selama 6 tahun saya tinggal di Jogja, beberapa kali pernah juga jalan-jalan malam di Jogja, tapi karena kotanya ngga terlalu besar, ngga macet, ngga ruwet dan sehiruk pikuk Jakarta di jam-jam aktivitas normal, kekontrasannya tidak terlalu terasa.

Saya merasa siang dan malam saat Jakarta masih sibuk, sulit untuk menemukan sisi kemanusiaan kota ini. Semua berjalan robotik, terprogram, sepertinya setiap orang sudah otomatis dalam melangkahkan kakinya, mengarahkan mobilnya, semua terjadwal, semua cepat…

Nah, saat dini hari itu, saya bisa banyak melihat hal-hal yang berbeda..

Saya melihat tukang bakpau di Sudirman menghitung uang hasil dagangannya, lalu mengayuh sepedanya, mungkin untuk pulang..

Saya melihat pedagang warung kaki lima di Melawai menurunkan tenda, beres-beres dan menyimpan gerobaknya..

Saya melihat bubaran gadis-gadis pekerja malam di Little Tokyo..

Saya melihat gelandangan menggelar kardus di emperan Blok M berangkat tidur..

Saya melihat tukang sapu jalan membersihkan jalanan Sabang..

Saya melihat penjaga pintu tol Pluit berkali-kali menguap di biliknya.. dan banyak lagi pemandangan lain..

Keadaan yang tenang, tidak terburu-buru, jalanan sepi tanpa klakson membuat saya bisa bebas berjalan pelan, terkadang berhenti sejenak, memperhatikan betapa banyak sisi kehidupan lain di luar kehidupan yang saya punya.. di saat-saat itu lah saya bisa tenang berpikir dan berkaca, kesedihan, kekecewaan dan kesulitan saya bukan apa-apa..

Saya sulit, tapi masih tidur dalam kamar yang bersih, luas, dengan tempat tidur yang nyaman..

Saya kecewa, tapi masih terhibur dengan sapaan hangat dan dorongan semangat sahabat-sahabat lewat media sosial dilayar smartphone saya..

Saya jenuh, tapi masih bisa menghibur diri dengan jalan-jalan, naik mobil, sesekali hang out, nonton di bioskop atau TV kabel di rumah..

Saya sedih, tapi setidaknya saya masih tersenyum membayangkan kios saya nanti di sebuah mal yang cukup ramai..

Orang lain mungkin punya berpuluh cara untuk me-recharge dirinya, untuk saya jalanan jadi tempat menghibur diri, melawan sedih, kecewa, malas, tak bersemangat, melatih syukur, merasa kaya, merasa bodoh kalau mau memutuskan menyerah..

Saat mengendarai mobil menuju rumah, ada senyum, ada semangat, ada harapan baru, ada kemantapan saat berkata “saya bahagia”… one day saat saya ngedrop lagi, jalanan Jakarta siap menyambut saya kembali dengan sejuta ilmunya.

Teman-teman punya cara lain? Bagilah dengan saya…🙂

One response »

  1. ooo.. gitu alasan bubu jalan malam…. Aku pikirnya bukan kurang kerjaan, tapi apa ngga capek seharian beraktivitas malamnya masih muterin jalanan? ternyata malah buat refreshing ya.. hehe..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s