Susahnya (berusaha) Menjadi Baik

Standard

Beberapa waktu yang lalu, seorang sahabat dan mentor saya tiba-tiba datang dengan ajakan untuk mengisi acara di TVRI Jogja, Gardu Dakwah… dan singkat cerita, jadilah saya ikut mengisi acara tersebut.

Yang menarik adalah tema pertama yg diangkat beliau saat itu paaaasssss banget dengan isi kepala dan hati saya, “meraih kehidupan bermakna dengan menjadi orang baik”
Entah pertimbangan apa yg membuat Pak Haji mengajak saya yang bukan siapa-siapa untuk berbagi bagaimana caranya jadi orang baik, rasanya seperti warning maha dahsyat untuk saya, untuk tidak merasa “sudah” jadi orang baik.

Ketika ada yang bertanya, jawaban saya mbulet waktu itu… karena jujur, saya berjuang keras meluruskan hati agar yang keluar bukan ungkapan penuh kesombongan yang kelak akan menusuk diri saya sendiri. Berulang kali, Bismillah Bismillah… saya jawab, bahwa menjadi lebih baik itu perlu usaha, karena meskipun kita lahir sebagai keturunan orang baik, berada di lingkungan orang baik, pada akhirnya menjadi baik atau tidak adalah pilihan akhir kita..

Jawaban itu muncul berdasarkan pengalaman pribadi… orangtua saya orang baik, luar biasa baik, lingkungan saya baik, tapi nyatanya saya pernah kecemplung menjadi tidak baik.. menjadi makhluk yang luar biasa memalukan.. hidup saya coreng moreng dengan pengalaman buruk.

Saat beranjak dari kehidupan jahiliyah saya, perjuangan menjadi baik itu terasa ekstra luar biasa keras.. karena mungkin hati saya sudah mulai mengeras.. sehingga segala hal baik yang ditawarkan lingkungan saya, sering saya tolak… muaaaaaacam-macam alasan / kondisinya, kadang saya merasa itu cuma kemunafikan, kadang saya merasa halahhhh sok alim looo, atau logika saya yang tidak mau tunduk pada keimanan… menentang menentang menentang…

Di antara waktu-waktu itu, terussss timbul tenggelam, baik-tidak-baik-tidak… entah benar atau tidak, tanpa bermaksud untuk kegeeran, saya merasa Tuhan banyak melembutkan hati saya untuk banyak menerima masukan dan uluran kebaikan dari keluarga, sahabat-sahabat dan lingkungan saya… perlahan… sangat perlahan… saya berubah…

Selesai?

Belum… di saat sekarang ini saya merasa berhasil sedikiiiiiiiit naik kelas, kembali dihadapkan pada tantangan lain.. kali datangnya dari orang sekitar.. cercaan, hinaan, sindiran, fitnah…. sudah semua.. komplit pliiiitttt…

Gosip dan sindiran..
“halah, kebanyakan omong, ngga inget dulu lo kaya apa?”
“ahhhh narsis, cermin memang mahal harganya..”
“dasarnya bejat bejat aja…”

Belum SMS dan teror telepon….terheran-heran.. padahal saya bukan selebriti.. hehehe…

Sampai beberapa waktu lalu, saya temukan keyakinan untuk berkata dengan tegas tanpa bermaksud jumawa.. “Saya persilakan untuk mencibir dan merendahkan, karena itulah yang akan membuat saya kuat menentukan sikap”

Dalam segala hal… dalam segala pilihan saya…

“Sok alim, ngga inget jaman dulu”
Tidak, saya tidak sedang sok alim, seandainya benar saya berusaha keras menjadi ‘alim’ (duh, tidak berani saya mengucapkannya dengan jelas), saya terima pendapat itu, tapi saya merasa pilihan saya sekarang ini lebih baik daripada “dulu alim dan sekarang tidak..”

“Sok idealis…”
Tidak, saya tidak butuh untuk jadi sok.. yang saya butuhkan mewujudkan idealisme saya, karena lebih baik idealis daripada skeptis, apalagi apatis🙂

“Narsis”
Ooooo Insya Allah… (dan tolong saya ya Allah, untuk terus meluruskan niat ini), kalau saya banyak berbicara lewat tulisan saya, hanya ada alasan:
1. mendokumentasikan catatan perjalanan hidup saya, untuk bahan belajar saya kelak..
2. berbagi tanpa ingin menggurui, tanpa keinginan menginspirasi… (duh siapa loe sih Reeeennnn…), saya cuma berkeyakinan, mudah-mudahan dengan menebar kebaikan maka segala kebaikan dari luar diri saya yang akan datang kembali dan menguatkan saya untuk terus menerus berusaha menjadi baik..

Masih panjang perjuangan… saya masih harus banyaaakkkk belajar untuk berlapang dada menerima kritik.. seperti halnya kritik singkat (tapi daleeem) dan terbuka dari sahabat saya Esti, saat saya mengungkapkan pendapat dengan bahasa yang kurang halus di status FB, butuh beberapa saat untuk mencerna dan akhirnya menerima itu sebagai kasih sayang seorang sahabat yang memang sudah seharusnya disampaikan.. matur nuwun… It was highly appreciated.

Saya juga masih harus banyak belajar menerima perbedaan pendapat, untuk tetap berdiri berdampingan, being “agree to disagree” dengan damai dan tanpa prasangka.

Saya masih harus banyak belajar menerima segala cercaan dengan santun, jadi ingat kasusnya Pak Mario Teguh, salut pada beliau.. yang tetap santun menghadapi semua komentar negatif yg disampaikan dengan cara (yang juga) negatif.

Saya masih harus banyak belajar untuk tidak berputus asa, berusaha dan berusaha menjadi lebih baik.. dalam sisa waktu hidup yang entah sampai kapan…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s