Catatan Pinggir Lapangan

Standard

written on Tuesday, April 21, 2009 at 8:14am

Seperti biasa, dalam keriuhan saya cenderung menepi, mengitari lapangan dengan pandangan mata dan memasang telinga..

”Tendang..tendang.. kepala.. jangan main bawah..!!”
”Aaahhh.. payah kamu!!”

Berikutnya..

”Kamu lawannya kecil, hajar aja terus..jangan berhenti nendangnya..”

Lalu..

”Jangan cengeng.. jangan cengeng.. kaya banci aja.. ayo masih bisa kejar!”

O..o.. ini kah tujuan orang tua mengenalkan olah raga bela diri ke anak-anaknya?
Begini kah cara pelatih mengajarkan bela diri ke anak didiknya?
Apa yang sebenarnya mereka cari?

Juara?
Saya rasa mental juara tidak didapat dengan menghina kekalahan anak.. dengan melecehkan kemampuan anak di depan tim dan orang lain..
Tidak juga dengan mengintimidasi lawan di pinggir lapangan..

Mental yang tangguh?
Saya rasa mental yang tangguh juga tidak akan terbentuk dengan memaksa anak bertanding dengan lawan yang tidak sepadan.. skor sudah 22-1, tendangan sudah berulang kali mendarat di kepala, air mata menahan sakit sudah mengalir, tapi tamparan masih mendarat ke wajah dan cercaan terus mengalir.

Mereka lupa, tanpa ada usaha untuk memberikan pemahaman yang benar, ada kemungkinan bahwa anak akan mencerna secara berbeda hal-hal yang disampaikan.

Lawan bukan musuh.. apalagi diluar lapangan.. namun apabila kata ”musuh” terlanjur diucapkan, hasilnya sesudah pertandingan anak-anak akan berkelahi di luar lapangan.. karena terlanjur menganggap lawan mereka adalah musuh yang harus dihabisi.
Lalu bukan mental juara yang didapat, tapi cuma mental preman jalanan..

Hinaan tidak selalu akan membuat anak merasa terpacu menjadi lebih berprestasi, tapi justru semakin menciut karena merasa apa yang telah dilakukan tidak ada harganya.. terlebih di mata orangtuanya.
Lalu bukan semangat menjadi lebih baik yang didapat tapi cuma semangat balas dendam..

Melihat adegan-adegan itu.. yang juga terekam di benak Arya, miris juga hati saya.. kuatir Arya akan mencerna dengan kurang tepat.. untung lah saya ingat sebuah adegan di akhir film Cars, dimana McQueen menolong King untuk meraih garis finish.. dan syukur Alhamdulillah ilustrasi itu cukup membuat Arya paham.. bahwa kadang tidak harus menang untuk menjadikan seseorang bermental juara..

Sungguh, tidak ada yang lebih berarti selain saat pulang Arya tidak berjalan dengan jumawa, tidak petantang petenteng, medali bagi Arya dan saya hanya simbol bahwa setiap usaha dan doa pasti ada hasilnya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s